Sistem Kepercayaan Orang Arso (Papua)

Dasar religi orang Arso adalah penghormatan pada roh-roh nenek moyang yang upacaranya dipusatkan pada pesta dansa, atau yages. Orientasi, konsep-konsep serta kegiatan-kegiatan keagamaan ditujukan kepada upacara terima kasih atas keselamatan dan minta pertolongan untuk mengatasi kegagalan-kegagalan dalam pelbagai segi kehidupan.

Konsep keagamaan orang Arso yang terpenting adalah sebutan terhadap Tuhan utamanya, yang mereka puji dan sembah, yaitu Chaimbo, dewa yang dianggap menciptakan dan memiliki langit, bumi dan segala isinya, termasuk manusia dan pada fowor, atau roh. Menurut hirarkinya, Tuhan membawahi tiga makhluk halus, yaitu fowor, atau manusia ruh, keti dan yonggoway. Chaimbo menjelma menjadi mata air, gunung, dan hutan, di samping menjaga agar hak kekuasaannya tidak bisa pindah kepada orang lain. Orang Arso paling takut akan yonggoway, karena roh itu bertugas untuk mencabut nyawa orang.

Sistem keyakinan orang Arso tercantum dalam mitologi mereka. Ada cerita-cerita tentang asal mula terjadinya alam binatang dan tumbuh-tumbuhan, di samping cerita suci tentang air bah besar seperti yang disebutkan dalam kitab Injil orang Kristen (Rombouts, 1957). Cerita-cerita suci lainnya tentang pasangan menusia yang pertama, yaitu seorang pria bernama Towyatuwa dan wanita pernama Ubosuwa, serta anak pria mereka Narowra, yang dapat disamakan dengan tokoh dewa pembawa adat dalam mitologi bangsa-bangsa lain. Narowra-lah yang mengajarkan orang Arso berkebun, mengambil sagu, berburu, mencari ikan, membuat berbagai kerajinan, serta menyanyi dan menari. Kedua bentuk kesenian tersebut amat penting dan malahan merupakan pusat dari hampir semua upacara religi dan adat. Serupa dalam mitologi bangsa-bangsa lain juga, dewa pembawa adat menjadi satu atau erat bekerjasama dengan tokoh dewa yang bersifat dualistik, artinya bersifat baik tapi juga merusak. Dalam mitologi orang Arso, tokoh itu adalah seekor buaya raksasa bernama Watuwa.

Masyarakat Arso mengenal tiga dewa tertinggi, karena itu aktivitas kehidupan mereka selalu dihubungkan dengan fungsi dari ketiga dewa itu dalam perwujudan konkret, berupa berbagai upacara dengan pesta tari-menari tertentu yang disesuaikan dengan adat kebiasaan keret masing-masing.

Tujuan upacara keagamaan orang Arso adalah (1) memintah kesejahteraan keluarga dan keret-keretnya, terutama yang berhubungan dengan aktivitas hidup mereka (2) mengucapkan rasa terima kasih kepada dewa-dewa karena kehidupan mereka baik; (3) minta agar mereka terhindar dari bahaya maut, kecelakaan, atau peperangan. Upacara adat worasyu adalah untuk menyatakan terima kasih kepada fowor, misalnya karena terjadi pengangkatan status sosial dan derajat wanita yang telah memelihara ternak babi, agar di tahun-tahun mendatang hasil peternakan babi mereka lebih banyak lagi. Di samping itu mereka memohon perlindungan dalam jabatannya agar mereka berwibawa dan agar pengaruhnya itu dapat mengimbangi kaum pria.

Bila dilihat dari arti katanya, maka worasyu berasal dari kata oras, yang artinya “induk dari papeda bungkus”, sedang yu berarti “menyanyi”. Jadi worasyu dalam artinya yang pertama, melambangkan rejeki yang berlimpah-limpah, sedang pengertian yang lain adalah pengangkatan status sosial dan derajat wanita yang berhasil memelihara ternak babi yang jumlahnya mencapai 30 sampai 80 ekor. Pemeliharaan babi disebut wotiaken. Besar-kecilnya penyelenggaraan upacara worasyu itu sangat tergantung dari hasil yang diperoleh. Bila hasilnya sedikit, biasanya diadakan upacara sederhana yang disebut worasnasi, yaitu mengadakan penguburan papeda bungus dan tepung sagu sebagai sesajen kepada fowor. Upacara ini biasanya dilakukan di hutan yang berjarak kurang lebih 400-600 meter dari kampung. Upacara worasyu biasanya dilakukan di halaman terbuka, di suatu tempat yang telah disiapkan, yaitu yatia. Di sini biasanya dibuat suatu bangunan yang menyerupai kerucut, bundar dengan garis tengah 20-30 meter. Atapnya terbuat dari daun sagu, seperti juga dindingnya, dan tiang intinya dari kayu besi, tingginya kira-kira 4-5 meter.

Penanggungjawab upacara ini adalah wotaken, yaitu tuan ternak, dibantuk oleh yuskwontor atauondowafi. Para petugas dalam upacara ini adalah seorang pembaca mantra, pengawas yatia, dan seorang pemimpin lagu dan syair selama upacara berlangsung, tokoh-tokoh adat yang bertugas merangkap semua urusan upacara, serta semua kerabat yang datang dari kampung lain maupun warga lain yang diundang.

Adapun atribut-atribut yang penting dalam upacara ini adalah papeda bungkus (worasnasi), tepung sagu mentahatau naa, pisang atau yur, sirih atau fer, kapur atau ku, tifa atau wong, babi, dan burung cendrawasih. Upacara ini berlangsung selama 24 jam, yang dimulaipada sore hari.

Orang Arso mempunyai konsep tentang orang sakti, yaitu orang yang berhubungan dengan seekor buaya sakti (watuwa), yang dalam mitologi menurunkan manusia melalui buah zakarnya. Anak yang dilahirkan Towyatua dan ubosuwa itu dinamakan Narowra, yang merupakan manusia yang mendapat kepercayaan Watuwa untuk meneruskan keturunan buaya sakti itu (Rombouts 1989: hlm. 13-17).

Seperti dalam semua kebudayaan di dunia, orang Arso juga mengenal upacara-upacara yang dilakukan sepanjang daur hidup. Walaupun pemberinan nama dan upacara perkawinan tampaknya tidak banyak mengandung unsur religi, upacara-upacara kematian sebaliknya mengandung banyak unsur religi.

Pada proses sosialisasi biasanya anak pria dan wanita yang sudah berumur 12-13 tahun dipisahkan dari orang tuanya. Mereka harus masuk rumah suling (mum-ja) yang didirikan di luar kampung dan dipagari agar tidak terlihat oleh seorang wanita dan anak-anak. Di rumah inilah anak pria itu diiniasiasi. Sebelum seorang anak laki-laki memasuki mum-ja, orang tua anak tersebut serta paman dari pihak ibunya menyediakan makanan sebanyak-banyaknya untuk pesra dan menjadi pelindung (jarwo) mereka dalam arti kata umum. Apabila suling ditiup, yang dilakukan oleh orang dewasa, maka anak-anak masuk ke dalam mum-ja. Pada waktu itu, mereka diberi waluh (penutup penis) dan noken, serta mendapat nama. Di dalam mum-ja mereka dipukuli dengan pelepah pisang hutan oleh orang-orang dewasa serta ditakut-takuti. Setelah itu mereka disuruh duduk di lantai dan orang-orang dewasa kemudian menyanyi dan meniup suling sambil berpesta pora. Anak-anak dilarang makan pisang, sukun, babi, ikan, pepaya, ubi, dan segala jenis daging, dan hanya boleh makan papeda, sayur, serta ikan-ikan kecil.

Anak-anak yang diinisiasi tinggal dalam mum-ja selama tiga-empat bulan. Di sana mereka diajar meniup suling secara benar dan bagus, cara berburu, dan dikenalkan dengan cerita-cerita mitologi. Menjelang kawin, anak-anak yang masuk mum-ja itu disebut sinbewagi. Biasanya setelah masa inisiasi berakhir, rambut mereka dicukur dan mereka disuruh berbaris di halaman muka mum-ja. Seorang pria dewasa kemudian memanah matahari, dan dengan demikian selesailah sudah masa inisiasi itu. Setelah keluar dari mum-ja, biasanya mereka tinggaldi rumah bujang (jatiya) sampai mereka menikah.

Suatu upacara kematian mengandung sedikit terligi karena mati berarti nyawanya diambil oleh roh yonggoway. Kematian juga bisa disebabkan karena masalah pelanggaran hak ulayat, perzinahan, atau karena pengaruh ilmu sihir orang lain. Biasanya orang meninggal akibat sihir itu. Jenazahnya diminta menunjukkan siapa yang telah membunuhnya. Akibatnya, akan timbul pembalasan dendam yang biasanya berakhir dengan suatu peperangan antar-keret. Setelah itu, jenazah diletakkan di atas sebuah bale-bale di hutan dan ditinggalkan begitu saja. Jalan menuju jenazah itu ditutupi dengan pohon-pohon kecil.

Sumber:
Koentjaraningrat, dkk. 1993. Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Dibaca: