Kelenteng Da Bo Gong (Provinsi DKI Jakarta)

Pengantar
Kelenteng Da Bo Gong terletak di Jalan Pantai Sanur 5, tidak jauh dari kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Provinsi DKI Jakarta. Pada mulanya kelenteng yang dibangun atas perintah Kapiten Lim Teng Tjau (sekitar tahun 1650) ini didirikan di suatu tempat yang tidak berpenghuni yang berjarak sekitar 4 kilometer di luar kota. Kelenteng yang sering disebut Kelenteng Ancol atau Vihara Bahtera Bhakti ini awalnya dibaktikan kepada Da Bo Gong (dewa tanah) dan Fu-de Zheng Shen (dewa bumi). Namun, lama-kelamaan hanya berfungsi sebagai tempat untuk pemujaan dewa tanah dan selanjutnya menjadi tempat untuk pemujaan juru masak Cheng Ho yang bernama Sam Po Soei Soe. Tokoh ini diduga memiliki nama asli Wu Bin, seorang pegawai Cheng Ho yang beragama Islam dan meninggal di tempat itu.

Kisah yang beredar di masyarakat setempat mengenai orang yang bernama Sam Po Soei Soe ini cukup menarik. Konon, waktu itu sebuah kapal Cina, Sam Po Kong, berlabuh di Ancol yang dulunya merupakan pelabuhan yang bernama “Bintang Mas”. Ketika kapal telah berlabuh, seorang juru mudinya yang bernama Sam Po Soei Soe turun ke darat untuk melihat pertunjukan ronggeng. Karena tertarik melihat pertunjukan itu, terutama pada salah seorang penarinya yang bernama Sitiwati, tanpa disadari ia tertinggal di pelabuhan tersebut. Singkat cerita, karena telah ditinggal oleh teman-temannya, ia kemudian mendatangi orang tua Sitiwati yang bernama Said Areli dan Ibu Enneng untuk melamar anaknya. Setelah disetujui, pernikahan pun dilaksanakan. Dalam pernikahan tersebut, sebagai seorang muslimah, Sitiwati meminta suaminya supaya tidak memakan daging babi karena haram. Sedangkan suaminya meminta Sitiwati untuk tidak memakai petai karena ia tidak suka baunya. Sebagai catatan, kedua barang tersebut (daging babi dan petai), sampai saat ini ditabukan untuk dibawa ke Kelenteng Da Bo Gong.

Setelah menikah, suatu hari Sam Po Soei Soe akan kembali berlayar. Sebelum berangkat, ia memerintahkan seseorang yang bernama Hong Tjoe Seng untuk membangun sebuah kelenteng. Namun sebelum kelenteng berhasil dibangun, Sam Po Soei Soe dan isterinya meninggal. Mereka kemudian dimakamkan di lokasi kelenteng bersama adik Sitiwati yang bernama Ibu Mone. Selain ketiga makam itu, di belakang bangunan kelenteng juga terdapat makam Embah Said Areli Dato Kembang bersama isterinya, Ibu Enneng (Pha-Poo).

Data Bangunan
Kelenteng Da Bo Gong dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: halaman, bangunan utama, bangunan tambahan, dan makam. Berikut ini adalah uraian tentang bagian-bagian tersebut. Kelenteng Da Bo Gong terdiri atas dua halaman yang masing-masing diberi pagar. Pagar pertama (luar) yang mengelilingi kompleks kelenteng secara keseluruhan berupa tembok setinggi kurang lebih 1 meter dan di atasnya terdapat jeruji besi setinggi sekitar 50 sentimeter. Sedangkan, pagar yang kedua terdapat dalam kompleks yang memisahkan bagian tempat bangunan ruang sembahyang dengan kebun yang memuat makam pengurus kelenteng. Kelenteng Da Bo Gong tidak memiliki gapura dan hanya memiliki pintu masuk di bagian utara yang merupakan bagian dari pagar.

Tepat di hadapan pintu masuk, terdapat koridor yang tidak mempunyai dinding dan hanya disangga oleh tiang-tiang. Lantai koridor terbuat dari tegel berwarna merah. Di sebelah kanan (barat) koridor terdapat taman dengan sebuah telaga buatan yang tepinya dibatasi dengan pagar besi. Di pinggir telaga dibuat bangku-bangku permanen yang terbuat dari semen. Pintu koridor terbuat dari kayu berwarna merah dan diberi gambar lukisan menshen (dewa penjaga pintu).

Setelah melewati koridor, terdapat bangunan utama kelenteng. Di bangunan utama tersebut terdapat halaman yang dihadapannya terdapat dua tempat sembahyang kecil dan dua pagoda tempat pembakaran kertas. Bangunan utama kelenteng terdiri atas bangunan serambi (luar dan dalam) dan ruang utama (pemujaan). Serambi luar memiliki tepi yang lebih tinggi + 20 sentimeter dari halaman dalam (kedua). Lantai serambi dan ruang utama memiliki dasar yang lebih rendah + 50 sentimeter dibanding permukaan lainnya. Serambi berdenah empat persegi panjang dengan luas 24,30x10,20 meter. Bagian serambi ini disangga dengan tiang yang dicor sebanyak 12 buah berbentuk segi empat dan berwarna merah.

Pada bagian muka (timur) serambi, diletakkan dua buah patung singa yang terbuat dari batu. Bagian ini tidak berdinding, kecuali dinding bagian belakang yang merupakan dinding pemisah antara serambi dengan rumah pengurus. Dinding bagian bawah dilapisi dengan keramik berwarna merah muda, dan bagian atas berupa tembok biasa berwarna krem. Sebagian tiang penyangga serambi menjadi satu dengan dinding ini, sehingga merupakan tiang semu. Di dinding sebelah kiri (selatan) terdapat prasasti yang bertuliskan huruf Cina yang isinya memuat tentang perihal pemugaran yang pernah dilakukan pada kelenteng ini. Di sebelah utara prasasti-prasasti ini terdapat pintu yang menghubungkan antara serambi dengan rumah pengurus. Di tengah serambi, tepat di depan pintu masuk untuk pemujaan terdapat dua meja altar yang terbuat dari kayu dan marmer berwarna krem. Serambi dalam letaknya tepat di depan ruang utama dan menaungi meja altar ke dua yang terbuat dari marmer. Serambi kedua ini memiliki empat buah tiang segi empat yang dicor dan dicat merah.

Atap luar serambi luar berbentuk limasan dan terbuat dari genting tanah liat. Atap ini secara keseluruhan menaungi serambi dalam (kedua). Atap serambi dalam berbentuk segi tiga yang ditutupi dengan genting tanah liat. Kuda-kuda atap serambi ini terbuat dari rangka kayu yang dibuat berjajar.

Ruang utama atau ruang pemujaan mempunyai denah empat persegi panjang yang berukuran 6,9x5,75 meter. Orientasi arahnya adalah utara-selatan. Lantai ruang utama ditinggikan sekitar 4 sentimeter dari lantai serambi dalam. Lantai ruangan utama terbuat dari bahan yang sama dengan lantai serambi. Lantai ini sudah mengalami perubahan, dengan cara ditinggikan karena rawan banjir.

Ruang utama memiliki dinding depan, samping kanan, dan kiri, serta belakang. Dinding depan mempunyai sebuah pintu dan dua buah jendela berbentuk sederhana yang terbuat dari kayu. Pintu masuk ruang utama berukuran 2,5x1,9 meter, berdaun pintu dua buah yang bagian luarnya dihiasi dengan gambar menshen (dewa pintu). Di bagian atas pintu terdapat dua pahatan berbentuk seperti roda bergerigi. Pada masing-masing bingkai pintu digantungi papan nama bertulisan huruf Cina. Di kanan-kiri pintu terdapat jendela besar yang terbuat dari kayu berukuran 1,25x1,25 meter. Bingkai jendela dicat merah, dan di dalamnya terdapat kisi-kisi dari kayu yang disusun secara vertikal dan berwarna kuning. Dinding ruang utama terbuat dari tembok yang dilapisi keramik berwarna putih. Dinding ini bukan merupakan dinding asli, tetapi hasil renovasi. Tembok di sebelah kanan dan kiri berbentuk empat persegi panjang dengan bagian atas berbentuk segi tiga, sebagai penyangga balok-balok atap. Pada dinding-dinding ini tidak terdapat hiasan, hanya masing-masing terdapat sebuah jendela dan lubang angin berbentuk lingkaran. Pada dinding belakang juga terbuat dari tembok, tetapi di bagian ini tertutup oleh meja altar tempat patung-patung.

Di bagian tengah ruangan utama terdapat dua buah meja altar. Meja yang pertama berusia ratusan tahun, terbuat dari kayu bercat merah dan dihiasi dengan ukiran-ukiran. Sedangkan meja yang kedua lebih sederhana dan tidak dihiasi dengan ukiran. Di atas kedua meja itu diletakkan pedupaan dan papan nama leluhur. Di dinding sebelah belakang terdapat tiga altar berisikan patung dewa yang dipuja. Ketiga altar ini terbuat dari kayu, terbagi menjadi tiga bagian dan dihiasi dengan ukir-ukiran flora dan fauna. Patung utama yaitu patung Sam Po Soie Soe dan isterinya, Ibu Sitiwati, berada di bagian tengah. Di bawah altar ini tampak makam suami isteri tersebut. Di sebelah kanan (utara) altar itu diletakkan patung Kong Toe Tjoe Seng, orang yang dimintai tolong oleh Sam Po Soei Soe untuk membangun kelenteng Da Bo Gong. Di sebelah kiri (selatan) altar Sam Po Soei Soe terdapat patung Sam Po Kong. Di bawah altar ini terdapat makan Ibu Mone, adik Ibu Sitiwati. Pada masing-masing altar tempat arca-patung itu terdapat meja tempat membakar dupa. Di belakang ruang utama terlihat sebuah bangunan sebagai tempat makam Embah Said Areli dan Ibu Enneng, orang tua Ibu Sitiwati.

Atap ruang utama bagian dalam berbentuk segi tiga terbuat dari kayu. Adapun atap luar terbuat dari genting, berbentuk pelana dan memiliki bubungan. Di atasnya diletakkan dua patung naga dan di tengahnya terdapat mutiara dalam sinar api.

Selain ruang atau bangunan utama tempat pemujaan terhadap Sam Po Soei Soe dan isterinya, di kompleks ini juga terdapat enam buah bangunan lain yang berfungsi sebagai tempat pemujaan, yaitu: (1) bangunan untuk pemujaan Sang Buddha; (2) bangunan untuk pemujaan Dewi Kwan Im; (3) bangunan untuk pemujaan Kong Tjai Sen atau Gong Zhu Cai Shen; (4) bangunan untuk pemujaan Kwan Kong atau Gua Gong (dewa perang); (5) bangunan karyawan kelenteng; dan (6) bangunan pertemuan.

Sumber:
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

http://community.siutao.com

http://www.geocities.com

http://www.sinarharapan.co.id

hal
Dilihat: