Permainan Chol (Lampung)

Chol adalah nama salah satu permainan rakyat yang terdapat di Desa Bojong. Permainan ini biasanya dilakukan oleh laki-laki, baik anak-anak maupun remaja. Mereka bermain dengan menggunakan bambu sebagai alatnya. Bambu yang digunakan masih dalam bentuk utuh dan diameternya kecil. Paling tidak bambu tersebut dapat tergenggam oleh tangan. Tingginya antara 1,5 hingga 2 meter. Sementara dudukan kakinya tergantung pada keberanian penggunanya, bisa 20 cm dari bawah atau bahkan 1 meter dari bawah. Untuk dudukan kakinya diberi lubang terlebih dahulu kemudian dimasukkan sepotong bambu kecil yang panjangnya disesuaikan dengan panjang kaki penggunanya. Untuk menguatkan bambu bagian kaki tersebut biasanya dikuatkan dengan paku. Alat tersebut jumlahnya dua, yakni untuk kaki kiri dan kaki kanan.

Permainan chol ini biasanya dilakukan secara berombongan atau lebih dari dua orang. Cara bermain pertama-tama kaki diletakkan pada tumpuan yang telah tersedia. Kalau dudukan kaki tersebut tinggi biasanya mencari tempat yang memungkinkan untuk menaiki chol dengan mudah. Kedua belah tangan memegang masing-masing bambu lalu berjalan secara seirama agar jangan sampai jatuh. Permainan ini memerlukan keterampilan dan keberanian. Keterampilannya berupa menjaga keseimbangan langkah kaki dan tangan serta badan agar tidak sampai jatuh. Keberanian tentu saja karena kalau tidak seimbang berisiko jatuh bahkan kalau tidak berhati-hati bisa tersungkur.

Permainan chol umumnya tidak sekedar permainan dengan hanya berjalan-jalan. Mereka juga biasanya menjadikan permainan dengan nilai kalah dan menang. Mereka saling memukulkan chol ke chol lawannya hingga salah satu dari mereka jatuh. Jika jatuh, itu pertanda kekalahan harus diterima oleh dia. Siapa yang tidak mampu menahan pukulan dan tidak mampu menjaga keseimbangan biasanya akan jatuh. Mereka juga harus berhati-hati agar jangan sampai bambu tadi mengenai kaki mereka. Karena hal ini tentunya akan menimbulkan sakit.

Suasana yang tercipta pada permainan tersebut cukup meriah. Tempat yang dibutuhkan juga harus agak lapang yang memungkinkan mereka berjalan-jalan untuk menjaga keseimbangan. Mereka biasanya membuat sendiri alat tersebut. bahan baku bambu ada yang diambil dari kebun ada juga yang dibeli dari orang lain.

Sumber:
Sucipto, Toto, dkk,. 2003. Kebudayaan Masyarakat Lampung di Kabupaten Lampung Timur. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
hal
Dilihat: