Orang Tua Beristeri Gadis Remaja

(Cerita Rakyat Sulawesi Selatan)

Alkisah, ada seorang lelaki tua kaya raya yang baru saja di tinggal mati oleh isterinya. Namun, walau telah berusia lanjut, apabila melihat perempuan muda gairahnya kembali bergejolak. Dan, dengan pengaruh kekayaannya itulah ia kemudian membujuk sebuah keluarga miskin untuk mengawinkan anak gadis mereka yang masih remaja dengan dirinya. Si gadis yang akan dikawin sebenarnya merasa muak melihat lelaki tua bangka itu. Namun, karena orang tuanya memaksa, maka ia pun akhirnya mau menerimanya.

Sesudah kawin, dan malam harinya hendak didekati oleh suaminya, perempuan muda itu berkata, “Aku akan izinkan engkau mendekat, jika engkau membelikan barang yang aku minta.”

Apabila keesokan harinya telah dibelikan dan pada malam harinya akan diajak tidur oleh suaminya, perempuan itu pun akan meminta suatu barang lagi. Dan, jika tidak diiyakan, suaminya tidak diizinkan masuk ke dalam kamar. Kalau pun diizinkan, si suami hanya boleh duduk di pinggir kasur saja. Begitulah seterusnya, si perempuan tetap menjadi gadis (perawan), namun telah memiliki pakaian, perhiasan, dan perabot rumah tangga yang sangat lengkap. Sebaliknya, sang suami semakin bertambah tua dan hartanya semakin terkuras.

Suatu hari, saat si perempuan akan pergi ke pekan, secara kebetulan ia melihat seorang pemuda yang gagah dan tampan lewat di depan rumahnya. Pemuda itu juga akan pergi ke pekan. Si perempuan dengan cepat keluar dari rumahnya dan mengikuti pemuda itu dari belakang.

Sesampainya di pekan, pandangan si perempuan tidak tertuju pada barang-barang yang diperjual-belikan, melainkan hanya pada si pemuda itu. Ke mana saja pemuda itu pergi, si perempuan selalu saja mengikutinya. Dan, pada saat berada di tengah keramaian, si perempuan pun dengan sengaja menyentuh lengan pemuda itu.

Oleh karena berada di tengah keramaian, dan tidak tahu siapa yang menyentuh siapa, maka si pemuda berkata pada perempuan itu, “Maaf, aku telah menyentuhmu.”

“Ah, tidak apa-apa. Jangan pergi ke pekan kalau tak mau bersentuh-sentuhan,” jawab si perempuan.

Setelah meminta maaf, si pemuda pergi lagi berkeliling untuk mencari barang yang dibutuhkannya. Sementara si perempuan tetap mengikutinya dari belakang. Dan, saat si pemuda telah berada di tengah keramaian lagi, si perempuan buru-buru menyentuh lengannya.

“Maaf, aku menyentuhmu lagi,” kata si pemuda

“Ah, tidak apa-apa,” jawab si perempuan.

Setelah itu, si pemuda meneruskan kembali pencariannya dan berhenti di depan warung yang menjual beraneka macam tembakau. Di tempat itu, ia mengambil dan mencoba beberapa jenis tembakau. Saat si pemuda tengah menikmati asap tembakau yang dipilihnya itu, si perempuan yang dari tadi mengikutinya dari belakang tiba-tiba berkata, “Pak penjual, tolong berikan saya satu linting tembakau seperti yang tengah dicoba oleh orang ini!”

Sesudah diberikan oleh si penjual dan sama-sama menikmati asap tembakau, perempuan itu lalu menanyakan kepada si pemuda, “Bagaimana rasanya tembakau yang kamu coba itu?”

“Aku rasa cukup baik, tembakau jenis inilah yang selalu aku beli,” jawab si pemuda.

Kemudian, berkatalah si perempuan pada penjual tembakau, “Kalau begitu, tolong bungkuskan sepotong tembakau seperti yang tengah aku hisap ini, pak.”

Tanpa berkata apa-apa, si penjual langsung membungkus sepotong tembakau dan akan diberikan kepada perempuan itu. Tetapi dengan cekatan, si pemudalah yang menyambutnya, kemudian dilanjutkan kepada si perempuan.

Saat ia menyodorkan uang, si pemuda segera mengatakan, “Tidak usah, aku saja nanti yang membayarnya.”

“Wah saya memberati sepupu,” si perempuan pun sudah mulai menyapa “sepupu”. “Singgah di rumah kalau engkau kebetulan lewat,” perempuan itu melanjutkan.

Si pemuda menjawab, “Baiklah, nanti lain waktu aku akan ke rumahmu”

Satu minggu kemudian, pada waktu hari pasaran berikutnya, si perempuan sengaja berdandan pagi-pagi dan kemudian duduk di jendela, menunggu si pemuda lewat. Tiada berapa lama, lewatlah si pemuda, lalu dipanggilnya, “Singgahlah sepupu, inilah rumah kami.”

Oleh karena rumah itu hanya memakai dinding sekat, suaminya menyahut dari dari ruang tamu, “Lelaki mana yang engkau panggil naik ke rumah?”

“Dia adalah sepupuku. Anak familiku yang tinggal di kampung sebelah,” jawab isterinya berbohong.

“Kalau begitu, suruhlah dia naik ke rumah,” kata suaminya.

Tanpa menghiraukan kata-kata suaminya, perempuan itu memanggil lagi si pemuda, “Singgahlah dahulu ke rumah kami, sepupu.”

“Ya, nanti sekembalinya aku dari pekan,” jawab si pemuda.

Setelah mendapat jawaban dari si pemuda, perempuan itu langsung ke dapur untuk menggoreng pisang dan merebus air. Dan, ketika pisang dan air telah matang, ia pun segera kembali duduk di jendela kamarnya, menunggu pemuda tadi lewat lagi di depan rumahnya.

Saat si perempuan melihat si pemuda telah kembali dari pekan, maka segera ia berteriak, “Hai sepupu, segeralah singgah ke rumah kami. Engkau sudah lama kami tunggu!”

Tanpa berkata-kata, si pemuda lalu membelok menuju rumah perempuan itu. Setelah sampai di muka rumah, ia kemudian dipersilakan duduk di serambi, sementara si perempuan segera masuk ke rumah untuk mengambil minum dan juga pisang goreng.

Pada waktu di dalam rumah, ia melihat suaminya sedang berpakaian untuk menyambut tamu yang tadi dikatakan sebagai sepupu dari isterinya. Ia kemudian menegur suaminya, “Tidak usahlah engkau keluar. Nanti sepupuku akan terkejut dan akan mengatakan kepada orang-orang di desanya bahwa suami sepupunya adalah seorang lelaki yang telah tua bangka. Lagi pula, engkau belum mandi. Di matamu itu masih ada kotoran yang meleleh.”

Teguran perempuan itu akhirnya membuat suaminya urung menyambut tamu yang sudah duduk di serambi rumah. Ia kemudian melepaskan lagi baju yang telah dikenakannya dan duduk di kursi yang ada di dalam kamar tidurnya.

Singkat cerita, si perempuan akhirnya dapat berbincang-bincang dengan si pemuda dengan leluasa. Sementara suaminya hanya duduk terpekur sambil merenungi nasibnya. Hartanya telah habis terkuras, namun belum sempat sekali pun ia berhasil menggauli isterinya. Bahkan, si isteri malah tertarik dengan lelaki lain yang jauh lebih muda dan tampan dari dirinya.

Sumber:
Diadaptasi bebas dari
Rasyid, Abdul dan Muhammad Abidin Nur. 1999. Cerita Rakyat Daerah Wajo di Sulawesi Selatan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: