Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu-Natuna (1)

Mali1 melanggah kubo
Nandek tebengun kepaleu ayah

Mali melangkah kubur
Nanti terbangun kepala ayah

Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan (Allah) yang paling tinggi derajadnya. Ketinggian derajad itu ditandai oleh akal yang dimilikinya. Dengan akalnya itulah manusia menumbuh-kembangkan kebudayaan yang berfungsi sebagai acuan untuk menghadapi lingkungannya dalam arti luas. Dalam berinteraksi dengan sesamanya misalnya, dalam hal ini satu dengan lainnya, tidak hanya saling-menghormati ketika seorang manusia masih hidup di dunia. Ketika seseorang mati pun masih dihormatinya. Hal itu tercermin dari ungkapan yang mengkaitkan antara kuburan dan ayah. Ayah, sebagaimana kita tahu, bagi seorang anak adalah “segalanya”. Ia tidak hanya sebagai “pengukir”, tetapi juga sebagai pengarah dan pembimbing yang sejati. Melangkahi kubur dapat diartikan sebagai tidak menghormati kepada orang tuanya (ayahnya). Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah nilai kemanusiaan.


Mali maki ughang lah mati
Nandek lah mati kenak sikseu

Mali memaki orang yang sudah mati
Nanti sudah mati kena siksa

Mati artinya menjalani kehidupan lain (akhirat). Agar yang mati dapat mempertanggungjawabkan tentang apa yang dilakukan pada waktu masih hidup (di dunia), maka pesan yang terdapat dalam ungkapan ini adalah semestinya tidak perlu diperbincangkan keburukannya (dimaki) karena hal itu hanya akan menyiksa si mati itu sendiri. Dan, sebagai orang yang beriman tentunya tidak melakukannya. Ungkapan ini, dengan demikian, mengandung nilai keihklasan.


Mali nyikseu kuceng
Nandek maghah Nabi

Mali menyiksa kucing
Nanti marah Nabi

Kucing, sebagaimana halnya manusia, adalah makluk ciptaan Tuhan. Sebagai sesama makluk tentunya harus saling menghargai. Apalagi, kucing sebagaimana kita tahu, adalah binatang kesayangan Nabi Muhammad S.A.W. Menyiksa kucing, dengan demikian dapat diartikan sebagai tidak menghargai sesama makluk hidup dan sekaligus tidak menghormati junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Jadi, ungkapan ini mempunyai pesan jangan semena-mena terhadap sesama makluk hidup. Ungkapan ini, dengan demikian, mengandung nilai penghormatan, baik kepada sesama makluk hidup maupun junjungan kita Nabi Besar Muhammad S.A.W.


Mali kemeh ngadep kiblet
Nandek benggak butoh

Mali kencing menghadap kiblat
Nanti bengkak kemaluan laki-laki

Kiblat adalah arah yang dituju bagi para muslim untuk bersembahyang. Ini artinya, arah ini sakral. Sehubungan dengan itu, pesan yang ingin disampaikan melalui ungkapan ini adalah sebagai arah yang sakral tentunya tidak pantas untuk dikotori (dikencingi). Dengan demikian, ungkapan ini mengandung nilai kesakralan atau penghormatan terhadap sesuatu yang sakral.


Mali nyipak Al Quran
Nandek tulah

Mali menyepak Al Quran
Nanti bengkak/kembung perut

Al Quran adalah kitab suci orang Islam. Sebagai sesuatu yang suci tentunya harus diperlakukan sebagaimana mestinya dan bukan disepak. Sehubungan dengan itu, pesan yang ingin disampaikan dalam ungkapan ini adalah menyepaknya berarti sama saja tidak menghormati kitab suci dan sekaligus orang Islam. Sehubungan dengan itu, maka ungkapan ini mengandung nilai penghormatan terhadap kitab suci dan sekaligus pemiliknya.


Maki endik puase
Nandek lah mati minom aek lio besek ughang puase

Mali tidak puasa
Nanti mati minum air liur basi orang puasa

Rukun Islam itu ada lima, yakni: mengucap dua kalimat sahadat, sholat, puasa, zakat, dan naik haji. Puasa, dengan demikian, merupakan sesuatu yang wajib dilakukan oleh orang Islam. Pesan yang ingin disampaikan melalui ungkapan ini adalah orang Islam harus berpuasa; sebab kalau tidak, dikemudian hari akan mendapat siksa. Ini diungkapkan sebagai ‘nanti mati minum air liur basi orang puasa”. Dengan demikian, ungkapan ini mengandung nilai kewajiban untuk melakukan sesuatu yang bersifat wajib.


Mali makan petang haghi
Nandek luta lih andu dengen taik

Mali makan petang hari
Nanti dilontar oleh hantu dengan tahi

Petang hari sangat erat kaitannya dengan suasana yang remang-remang. Apa yang ingin disampaikan melalui ungkapan ini adalah makan dalam suasana yang demikian bisa saja akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, saat-saat yang demikian adalah saat-saat untuk bersiap-siap melakukan solat magrib. Ungkapan ini, dengan demikian, mengandung nilai preventif.


Mali makan tebu petang aghi
Nandek mati mak

Mali makan tebu petang hari
Nanti mati mak

Petang hari, sebagaimana telah disebutkan pada bagian atas, adalah saat-saat pergantian dari siang ke malam. Oleh karena itu, suasananya remang-remang. Makan sesuatu, apalagi tebu yang harus dikupas, tentu saja dapat menimbulkan hal-hal yang tidak ingin (tergores benda tajam). Disamping itu, kulitnya berserakan. Ungkapan ini, dengan demikian, mengandung pesan agar makan sesuatu disesuaikan dengan situasi. Sedangkan, nilai yang terkandung di dalamnya adalah kehati-hatian.


Mali nyenyi petang haghi
Nandek tegigit butoh andu

Mali menyanyi petang hari
Nanti tergigit butuh (zakar) hantu

Petang hari, sebagaimana dikatakan di atas, suasananya remang-remang. Sementara menyanyi dengan sendirinya mengeluarkan suara. Menyanyi itu sendiri tidak dilarang, asal sesuai dengan situasi dan kondisinya. Petang hari, bagi orang muslim, adalah waktunya untuk menunaikan ibadah (sholat) magrib. Oleh karena itu, pada saat-saat seperti ini bukan waktunya untuk menyanyi, tetapi membersihkan diri guna menunaikan sholat magrib. Jadi, pesan ungkapan ini adalah agar seseorang menghormati orang lain yang sedang melakukan sholat. Dengan demikian, nilai yang terkandung di dalamnya adalah toleransi (tenggang rasa).


Mali semeyang delem gelep
Nandek jedi andu

Mali sembahyang dalam gelap
Nanti jadi hantu

Pesan ungkapan ini agar sholat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Tidak dalam gelap, melainkan di tempat yang terang sehingga sholat dapat dilakukan secara benar. Ini artinya, ungkapan tersebut mengandung nilai ketertiban. Dengan perkataan lain, jangan melakukan sholat secara asal, tetapi sesuai dengan syarat dan rukunnya.


Mali nyughek mende ughang
Nandek lah mati kenak keghat tangan

Mali mencuri benda orang
Nanti lah mati kena kerat tangan

Pesan ungkapan ini agar menjadi amanah, dapat dipercaya, tidak semena-mena terhadap hak orang lain. Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menghormati hak dan atau milik orang lain.


Mali naek cok betang betek
Nandek kenak bughut

Mali naik pucuk (atas) batang betik (pepaya)
Nanti kena burut (bengkak pelir)

Pucuk batang pepaya mudah patah dan karenanya berbahaya untuk dinaiki. Ungkapan ini, dengan demikian, mempunyai pesan agar jangan naik pohon yang mudah patah, khususnya pepaya, karena sesuatu yang tidak diinginkan dapat saja terjadi. Sehubungan dengan itu, maka ungkapan ini mengandung nilai kehatian-hatian.


Mali meludih ughang
Nandek kenak kughap

Mali meludah orang
Nanti kena kurap

Air ludah adalah sesuatu yang menjijikan. Meludahi orang lain berarti menghinanya. Dan, ini dapat membuat yang diludahi menjadi marah, sehingga terjadi keributan. Oleh karena itu, jangan meludahi orang. Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menghargai sesama manusia.


Mali nyipak ughang
Nandek ghundot betes

Mali menyepak orang
Nanti runtut (bengkak) betis

Menyepak (menendang) orang dapat membuat yang disepak marah, sehingga dapat menimbulkan keributan. Oleh karena itu, perbuatan ini tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menghormati sesamanya.


Mali ngambik mende lah beghik dengan ughang
Nandek bughuk siku

Mali mengambil benda sudah diberi orang
Nanti buruk siku

Mengambil benda yang telah diberikan kepada seseorang dapat membuat yang bersangkutan tersinggung. Oleh karena itu, apa yang diberikan kepada orang lain jangan diminta lagi. Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keikhlasan.


Mali makan beghes mandak
Nandek kenak sakit kuneng

Mali makan beras mentah
Nanti kena sakit kuning

Beras adalah buah yang tidak dapat langsung dimakan sebab keras, sehingga dapat menganggu pencernakan. Ia mesti dimasak lebih dahulu baru dimakan. Oleh karena itu, beras yang masih mentah jangan dimakan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesehatan.


Mali duduk cok kupek
Nandek kenak bisol

Mali duduk di atas bantal
Nanti kena bisul

Bantal adalah perlengkapan tidur yang digunakan untuk menahan kepala. Jadi, bukan untuk pantat. Oleh karena itu, duduk di atas bantal tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah penempatan sesuatu sesuai fungsinya.


Mali nungeng tepayan beghes
Nandek laghi semengat

Mali menungging tempayan beras
Nanti lari semengat (keberkahan)

Beras adalah makanan pokok masyarakat Bunguran-Natuna. Sebagai sesuatu yang kemudian dimakan tidak sepantasnya ditunggingi. Oleh karena itu, menungging tempayan beras tidak diperbolehkan karena, walaupun ia merupakan tempat, tetapi ia sangat erat kaitannya dengan makanan, sehingga menunggingi tempayan beras sama saja menunggingi makanan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah memperlakukan sesuatu sebagaimana mestinya.


Mali meka padi
Nandek sumbah lih semengat-e

Mali membakar padi
Nanti disumpah oleh semengatnya (keberkahannya)

Membakar padi sama dengan membunuh diri karena padi yang kemudian menjadi nasi adalah makanan pokok masyarakat Bunguran-Natuna. Di samping itu, padi ada yang “menjaganya”. Oleh karena itu, membakar padi disamping merugikan diri sendiri dan masyarakat, juga dapat membangkitkan kemarahan yang menjaganya. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah keselamatan.


Mali makan sambil bejelen
Nandek kujud

Mali makan sambil berjalan
Nanti kujud (tidak pernah cukup)

Makan sambil berjalan menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya, makanan tumpah. Selain itu, makan sambil berjalan dianggap tidak sopan. Oleh karena itu, makan sambil berjalan tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah keselamatan dan kesopanan.

Sumber:
Galba, Sindu dan Sudiono. 2004. Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu-Natuna. Kepulauan Riau: kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Asdep Tradisi.

1 Mali seringkali diartikan sebagai “pantang”, “susah”, “jangan” atau “tidak boleh”. Namun demikian, kata-kata tersebut rasanya tidak pas betul, karena kata mali di dalamnya mengandung kekuatan magis. Sebagai contoh, jika seseorang dilarang dengan menggunakan kata “jangan”, “tidak boleh”, dan lain sebagainya, maka yang bersangkutan akan biasa-biasa saja. Bahkan, mungkin akan melakukan juga. Namun, jika yang didengarnya adalah kata mali, maka yang bersangkutan akan mentaatinya, karena di balik kata itu ada kekuatan magis, yang apabila dilanggarnya, diyakini dapat menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan.

hal
Dilihat: