Riwayat Sejarah Riau

Pendahuluan
Chambert-Loir dan Miller yang dikutip oleh Sri Wulan Pujiati Mulyadi mencatat ada 28 negara yang memiliki atau menyimpan naskah Melayu1. Jumlahnya tidak diketahui secara pasti. Bisa jadi antara 4.000 sampai 10.000 naskah atau malah lebih, karena Chambert-Loir sendiri memperkirakan ada 4.000 naskah. Sementara itu, Ismail Hussein memperkirakan ada 5.000 naskah. Jones malah memperkirakan lebih banyak ketimbang dua ahli tersebut, yaitu 10.000 buah (Mulyadi, 1986: 115)

Itu adalah sekilas tentang gambaran jumlah dan persebaran naskah Melayu2 di dunia. Sedangkan, jumlah dan persebaran naskah Melayu di Indonesia sendiri pun belum diketahui secara pasti. Cuma yang jelas, di luar yang tersimpan di Museum Nasional, perpustakaan Nasional, dan Arsip Nasional, naskah Melayu terdapat juga di berbagai tempat di Indonesia, seperti: Aceh, Nusa Tenggara Barat, dan Ambon. Malahan, menurut Mulyadi (1986), berdasarkan informasi lisan di Sumatera Barat dan Bangka (Sumatera Selatan) terdapat perorangan yang memilikinya.

Sebenarnya masih ada daerah di Indonesia yang belum disebut oleh Mulyadi yang juga memiliki naskah3 Melayu, yaitu “daerah asal orang Melayu sendiri” (Provinsi Riau dan Kepulauan Riau). U.U. Hamidy (1986) dan Hasan Yunus (1986) menyebutkan bahwa naskah Melayu yang tersebar di Riau ada 108 Naskah. Sedangkan, Hasan Yunus menyebutkan bahwa di Pulau Penyengat saja tidak kurang dari 75 naskah. Sementara itu, Sindu Galba dan Dibyo Harsono yang pada tahun 1996 melakukan pendataan dalam rangka pembuatan Bibliografi Naskah Kuno Melayu beranotasi menyebutkan bahwa yang sempat didata saja ada 100 naskah. Salah satu di antara sekian banyak naskah Melayu yang tersebar di Indonesia adalah yang berupa tulisan tangan dengan judul “Riwayat Sejarah Riau”. Naskah yang tidak diketahui siapa pengarangnya serta tanggal dan tahun berapa ditulis (halaman kulit tidak ada) ini merupakan koleksi Bapak Atan Rahman yang bertempat tinggal di Desa Keke, Kabupaten Kijang, Provinsi Kepulauan Riau. Yang bersangkutan adalah salah satu tokoh (ketua) teater tradisional makyong.

Huruf yang digunakan adalah huruf Jawi. Huruf ini lebih populer dikenal sebagai huruf Arab Melayu karena penulisan bahasanya yang Melayu dan menggunakan huruf Arab. Cara penyajiannya kurang konsisten dan penuturannya secara lisan (bahasa lisan yang ditulis). Dengan demikian, memerlukan konsentrasi yang penuh untuk dapat memahami isinya. Berikut ini adalah alih aksara dari naskah “Riwayat Sejarah Riau”.

Alih Aksara

Bismillah Hirrohman Nirrohim
Riwayat Sejarah Riau
Adalah keturunan dari Raja Johor Sultan Abdul Jalil. Sultan mempunyai putra bernama Tengku Sulaiman. Pada tahun 89 Sultan Jalil duduk memerintah di negeri Riau. Pada tahun 91 berpindah ke Lingga, maka diganti puteranya Muhammad Tahir Syah bergelar Sultan Abdul Jalil. Istrinya bernama Tengku Sopiah. Ianya bahru bersalin Tengku Mahmud baru 40 hari. Tengku Ahmad baru berumur 9 tahun.

Syahdan
Raja Haji beristri pula dengan anak raja Jambi bernama Ratu Misa digelar Waliah Sultan Jambi Kelana Pangeran Sriwijaya. Tersebut pula Raja Goa seorang raja anak negeri Bugis yang bernama Daeng Mampauh. Hatta, tersebut Riau itu tua lahir pada tahun 1111 di Sungai Duyung di dekat teluk Rampang Panuk. Ianya bernama Encik Mahmud ibunya bernama Aida Suri. Diambil oleh Sultan Malaka ianya Encik Mahmud beristri pula dengan anak Encik Akib di Pulau Mapa dapat seorang laki-laki bernama Jebat bundanya bernama Encik Putih anak Encik Hakim. Karena Jebat menderhaka ianya mengam kandik Sultan maka dibunuh oleh abangnya Tuah maka matilah Jebat.

Syahdan
Tak berapa lama baginda Sultan pergi berangkat ke tanah Jawa tarek berapa lama baginda beristri dengan anak Raja Majapahit maka dibawalah ke Malaka. Mangkat Sultan Mansyur Syah diganti puteranya yang bergelar Sultan Aladin Riayat Syah pada tahun 1118. Diganti putranya yang bernama Tengku Zainal dengan baik parasnya banyak pula orang-orang Malaka ngakrah dan istri-istri orang tiada ketentuan.

Hatta
Tersebutlah Sultan Mahmud mengambil tunangnya Raja Pahang yang bernama Tun Tijah disuruh pula curi kepada Hang Karim Baginda itu pula suka bermain muda dengan istri Tun Yazid. Tun Yazid itu anak Laksamana Hang Tuah. Baginda itu sudah membunuh bendaharanya yang bernama Sri Maharaja Peringgi melanggar negeri Malaka. Jadi Sultan menawarkan dirinya maka larilah ia ke Riau, maka putranya pergi ke Bintan. Putranya bergelar Sultan Ahmad Syah. Dilanggar lagi oleh peringai lalu lari ke hulu muara Bintan. Lalu lari lagi ke hulu Pahang. Sultan Pahang waktu itu Sultan Mansyur Syah. Dari Pahang lari ke Johor. Maka berbuatlah ia sebuah negeri di Johor pada tahun 1021 Masehi. Sultan Ahmad pula tidak sukakan orang-orang tua jadi racun bapaknya. Mangkat Sultan Ahmad Syah jadi enam keturunan raja-raja Melayu Malaka pindah ke Johor dan Johor pindah ke Riau. Maka diserang oleh peringgi maka Riau pun kalah maka lari pula ke Kampar. Di dalam Kampar Sultan Mahmud mangkat meninggalkan dua putra laki-laki dan satu istri. Maka diganti puteranya bernama Sultan Aladin Riayat Syah. Sultan Aladin masuk ke Pahang beristri pula dengan putri Sultan Mansyur Syah yang bernama putri Kesuma Dewa. Keluar dari Pahang lalu ke Johor. Laksamana Nadim menjadi raja laut. Beberapa kali merumpak di Malaka. Mangkat Sultan Aladin diganti putranya Sultan Mudhapur Syah. Umurnya baru 19 tahun. Ianya selalu berpahat dengan orang tua-tua dahulu, Mangkat Sultan Mansyur Syah diganti putranya bernama Sultan Abdul Jalil Syah. Pada masa itulah datang peringgi melanggar balik ke Malaka. Baginda berpindah pula ke Seri Batu Sawah namanya. Digelar Baginda negeri Makam Tauhid. Putra Sultan Abdul Jalil dengan kadiknya dapat putra tiga orang anaknya yang tua bernama Raja Husin dirajakan di negeri Siak. Raja Hasan dirajakan di negeri Kampar. Raja Mahmud pula dirajakan di negeri Kelantan. Zaman Johor segala raja-raja Melayu di bawah Johor Mangkat Sultan Syah. Pada masa itulah datang Raja Aceh melanggar Johor, maka Johorpun kalah. Bagindapun mengundurkan dirinya ke Lingga tiada berapa lama di Lingga berangkat pula ke Tambelan maka mangkat baginda di Tambelan. Diganti putranya yang bernama Sultan Abdul Jalil Syah. Saudaranya jadi dipertuan Muda duduklah di Pahang dan laksamana dititahkan membuat negeri di sungai jaring, serta membuat kelengkapan merumpak. Masa itulah dikalahkan oleh Jambi. Mangkat almarhum muda ini di Pahang kemudian mangkat pula Sultan Ibrahim Syah. Mangkat pula almarhum ini Almarhum Muda pada tahun 1087. Mangkat Sultan Abdul Jalil pada tahun 1088 Masehi.

Sebermula
Kisah Sultan Ibrahim Syah
Berpindah ke Riau lalu mengalahkan Jambi dan Siak. Mangkat Sultan Abdul Jalil itu di Johor diganti oleh putranya bernama Sultan Mahmud Syah maka tetaplah di Johor. Bendahara Sri Maharajapun pekirah Tun Bahib mangkat pada tahun 1109 di Johor diganti putranya jadi bendahara di negeri Johor. Kemudian mangkat pula Sultan Mahmud di Kuta Tinggi pada tahun 1111 Masehi. Diganti kerajaan bendahara ini Datuk Bendahara Tun Habib Sri Maharaja maka bergelarlah ia Sultan Abdul Jalil yang lahir ke dunia bergelar Sultan Sulaiman. Mangkat sultan Mahmud Megat Sri Rama, laksamana Bintan sebab istri Megat Sri memakan seulas nangka perpetika. Sultan ini tengah tidur berada di Kuta Tinggi, dimakamkan di Tauhid namanya di Johor.

Subermula
Alkisah Sultan Abdul Jalil
Adalah Sultan Abdul Jalil adapula beberapa orang putranya dengan kandiknya yang bernama Encik Nur Samah anak orang Aceh. Adapun putra yang gahra beberapa orang pula yaitu putra didalam masa ia jadi bendahara bersaahan Tengku Sulaiman. Sungguhpun ia anak kandik akan tetapi ia putra didalam menjadi sultan sebab itulah anaknya yang tua dijadikan bendahara dan yang seorang dijadikan Tumenggung dan saudaranya dijadikan Indra Bungsu. Adapun Tengku Sulaiman pada niat adalah hatinya hendak dijadikan gantinya sebab putranya sama-sama gahra.

Syahdan
Riwayat Tengku Sulaiman
Adalah Tengku Sulaiman itu 6 beradik akan tetapi yang dapat disebut didalam silsilah itulah bilangan yang pertama Tengku Sulaiman yang kedua Tengku Tengah yang ketiga Tengku Komariah yang keempat Tengku Andak. Adapun Tengku Sulaiman ia menjadi raja diangkat oleh raja Bugis yaitu Apu-apu yang lima beranak.

Hatta
Kisah Apu yang Lima Beradik
Didalam sejarah ini adapun Tengku Tengah ini dijadikan istri. Apu Daeng Perani dapat putri yang bernama Raja Maimunah. Raja Maimunah bersuami pula dengan Datuk Tumenggung Johor. Ianya bernama Daeng Celak adalah Tengku Andak bersuamikan Daeng Celak dapat anak bernama Tengku Patih dan Tengku Hitam inilah dari anak Sultan Abdul Jalil yang perempuan anak Raja Bugis adalah dari anaknya yang laki-laki berkekalan di Johor, maka akan ketahuilah silsilah dari pada Sultan Sulaiman yaitu putera Sultan Abdul Jalil yang menjadi raja johor dan seorang anaknya bernama Tengku Abdurrahman anak dari pada Encik Nus Samah yaitu dua laki-laki empat belas perempuan.

Syahdan
Kisah Sulaiman
Sultan Sulaiman beranakkan raja baharu yang bernama Raja Abdul Jalil anaknya yang gahra dengan encik puan Perak. Anaknya yang lain-lain yaitu Raja Usman dan Jamil dan Raja Bulang dan beberapa lagi anaknya yang beristrikan putra Daeng Celak beranakkan Sultan Almarhum Lingga dan Sultan Mahmud ini berputra dua orang laki-laki yang seorang bergelar Sultan Abdurrahman Almarhum Bukit Cengkeh di Lingga. Sultan Muhammad tatkala ia mangkat digelar Almarhum Keratuan. Adapun sultan Mahmud digelar Sultan Sulaiman putera Almarhum Sultan Abdurrahman Bukit Cengkeh. Tengku Mahmud mangkat di Pahang digantikan kerajaannya saudaranya Sulaiman Badrul Alam Syah putra Almarhum Bukit Cengkeh. Ini ada laki-laki dan perempuan. Putra laki-laki bernama Sultan Muhammad yang disebut orang Almarhum Keratuan ianya putra yang sama gahra yang kedua Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah yang ketiga Raj Daud atau Tengku Besar. Adapun yang perempuan Tengku Tengah dijadikan istri Raja Haji Abdullah yang Dipertuan Riau. Putra Almarhum Raja Jakfar bangsa Bugis. Kedua Tengku Kecik jadi istri bendahara Pahang yang bernama Tun Hamid Tahir. Yang ketiga Tengku Andak jadi Tumenggung. Tengku Ibrahim yang diam di Singapura di teluk Belanga ianya tiada beristri. Adapun Sultan Muhammad Almarhum adapula anak laki-laki dan anak perempuan yang laki-laki yaitu Sultan Mahmud yang disebut tadi berdua satu ibu. Yang perempuan bernama Tengku Dalmi ia bendanya Raja Trengganu yang bernama Tengku Tiah anaknya yang lain Tengku Said dan Tengku Hamidah dan Sopiah dan Tengku Maryam bersuami dengan Yahya anak Raja Abdullah bin Raja Haji Ahmad ianya saudara Raja Jakfar putra Almarhum Teluk Ketapang di Melaka. Adapun tengku Salmah bersuamikan Raja Mansyur yang dipertuan Muda. Raja Abdullah putra almarhum Raja Jakfar yang tersebut itu Tengku Sopiah bersuamikan dengan Raja Siam yang bernama Kudsi.

Syahdan
Kisah Sultan Mahmud
Adapun Sultan Mahmud putra Almarhum Sultan Mahmud ada anak perempuan yang bernama Tengku Ambung ianya bersuamikan dengan anak dipertuan muda Raja Ali. Ianya anak Almarhum Raja Jakfar. Raja Muhammad Yusuf yang dipertuan muda yang keturunan dari raja Bugis. Raja Muhammad Yusuf mengadakan anak laki-laki bernama Tengku Besar dan yang perempuan bernama Nur Siah yang laki lagi bernama Tengku Ali dan lagi Tengku Jakfar ada orang anak perempuan inilah yang sama gahra, yang lain dari pada itu Tengku Abdullah dan Tengku Abdul Jalil segala yang tersebut ini masing-masing ada pula meninggalkan anak kebanyakan anak cucu Sultan Hasyim di Singapura.

Kisah Encik Puang
Adalah Encik Puang anak laksamana yang bernama Megat Sri Rama dan Raja Kecik disiak gelarnya dari Pagaruyung. Sultan Abdul Jalil dari Johor keturunan dari bendahara Tun Habib. Sesudah Encik Puang bersetubuh lalu mengandunglah. Konon sejarah pihak dari Trenggano adalah Encik Puang dipakai memang oleh baginda ini telah mengandung lebih dahulu. Waktu baginda mangkat orang-orang tengah bergaduh maka Encik Puangpun dilarikan oleh Panglima Besar dibawa ke Pagaruyung kepada putri yang bernama Jamilan. Lalu oleh Encik Puang bersaling disitu yaitu anak laki-laki lalu diambil oleh putri Jamilan dibawa anak angkatnya. Sudah dibawa dan digelar anak raja beralih adalah dipuluh rukat oleh Putri Jamilan serta lama tuan Sakti disuruh bersandar ditiang jelatang. Diletakkan Nahkoda di atas kepalanya. Tiadalah satu apapun diberi nama oleh Sakti Raja Kecik. Raja Kecil dinegeri Siak ianya mempunyai dua orang anak laki-laki yang pertama bernama Raja Mahmud timang-timangnya Raja Buang adalah Bunda Tengku Komariah putra Almarhum Sultan Abdul Jalil tatkala di Johor Tengku Komariah ini bundanya istri Raja Kecik ianya menjadi Raja Muda. Tengku Muhammad jadi yang dipertuan Besar maka lalu berperang adik beradik.

Syahdan
Kisah Raja Kecik
Apabila Raja Kecik ini mangkat maka berpindahlah kerajaan diantara anak cucunya ambil berambil kerajaannya. Kisah Raja Bulang ianya bergelar Raja Mahmud. Tengku Mahmud ini bergelar Sultan Mahmud Syah. Sultan Mahmud Syah ini beristri dengan Daeng Metaguh. Adapun lama kerajaan Sultan Abdul Jalil memerintah di Johor selama 20 tahun.

Hatta
Alkisah Raja Bugis
Tersebutlah perkataan Raja Bugis. Raja yang besar-besar di negeri Goa adalah namanya Baginda itu Madu Silat kata setengah pula Madu Silat ia anak tiga orang laki-laki yang pertama nama Pacung yang kedua bernama sendiri Buang Daeng Rilaga yang ketiga Apu Daeng Bias. Maka ketiga-tiga anak raja ini baik rupanya. Apabila Baginda Ayahandanya mangkat diganti oleh putranya yang tua bernama Pacung. Saudaranya yang dua ini akan menggantikan menjadi mentrinya, maka keduanya berpangku bermohon pergi mengembara dahulu melihat termasa dinegeri orang adapun Daeng Bias ini menjadi Kelana. Ianya menyusuplah tanah Jawa berperang bersama Holanda. Melanggar di tanah Jawa maka dijadikan oleh Betawi. Adapun di negeri Betawi Apu sendiri Buang Daeng Rilaga ianya mempunyai lima orang anak laki-laki satu ibu yang satu pula adalah Daeng Celak. Bundanya itu raja Bugis bernama Datuk Pawa dibawa oleh Apu Tandiri Burang Daeng Rilaga. Berlayar bersama-sama dengan Yekatah sebelah Barat, dipanggil orang namanya Daeng Pali mempunyai anak yang pertama bernama Apu Daeng Perani yang kedua bernama Apu Daeng Menambun dan yang tengah bernama Daeng Meriwah yang keempat bernama Apu Daeng Celak yang kelima bernama Apu Daeng Kemasi. Kelima-lima anak raja ini masih remaja belaka. Adapun Daeng Celak dan Daeng Kemasi ini budak sangatlah dikasihani oleh ayahanda bundanya, maka dibawalah barang kemana-mana putra ini yang kelima itu. Apu Daeng Celaklah yang baik parasnya membuat ngirat hati perempuan-perempuan kata yang empunya ceritanya. Maka datang gerak hati Apu Tandiri Burang Daeng Rilaga itu bermain dinegeri orang lain dengan baginda itu masih kaum kerabat. Maka berangkatlah baginda ke negeri Tapa Manah dengan segala mentrinya maka apabila sampai di negeri itu disambut segala orang-orang besar Tapa Mana dibawanya beramu dengan datuk perempuan itu dimuliakan oleh datu perempuan itu betapa adat raja-raja sama raja-raja dengan berjamunya serta diberinya tempat duduk yang patut. Tiada berapa lama mufakatlah segala orang besar-besar Tapa Manah ini hendak disatukan kedua raja ini jadu dua laki-istri karena Datuk Tapa Manah raja perempuan lagi muda remaja putera maka dinikahkan oleh orang besar-besar itu sebagai adat raja-raja. Setahun lamanya mendapat seorang anak perempuan digelarkan nama Datuk Rutaja itulah ganti paduka bundanya menjadi raja Tapa Manah.

Alkisah Anak Raja Lima Beradik
Maka berangkat anak raja yang lima beradik pergi ke Riau berperang pula dengan Raja Kecik Siak. Daeng Perani menjadi kepala perang karena dia yang tertua. Perang yang pertama kalah Raja Kecik maka baliklah ke Siak anak raja yang lima beradik pergi ke Siak. Ianya minta barang-barang kerajaan Raja Sulaiman. Raja Kecik tiada memberi lalu berperang lagi kakak kalah lagi Raja Kecik dengan anak raja ayang lima beradik. Lalu lari Raja Kecik masuk kehulu didapat oleh anak raja yang lima itu maka Raja Kecik minta maaf ia hendak memulangkan barang kerajaan Raja Sulaiman kepada anak raja yang lima beradik. Baharulah anak raja lima beradik itu balik ke Riau. Maka menghadaplah raja Sulaiman. Disambutlah raja Sulaiman akan anak raja ini beberapa kemuliaan dan peti kerajaan ini maka diarak oleh orang-orang ke istana Balai Ruang Sri maka Kelana Jaya Putra serta saudara-saudaranya yaitu Daeng Menambun berkehendak akan menggantikan raja Sulaiman. Akan kerajaan Paduka Ayahandanya Sultan Abdul Jalil yang mangkat di kawal Pahang. Maka dilantiklah raja Sulaiman ini pada tahun 1111 masehi. Bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Berhimpunlah segala bugis-bugis dan orang-orang Melayu melantik Raja Sulaiman sebagaimana adat raja-raja orang besar-besar yang dilantik yaitu Kelana Jaya Putra sambil berdiri dan menghunus pedang. Katanya barang tahu kiranya segala anak-anak Bugis damai anak-anak Melayu dengan hari ini Raja Sulaiman bergelar Sultan Badrul Alam Syah dan dia menjadi yang dipertuan besar memerintah negeri Johor dan Riau serta Pahang dan segala daerah takluknya.Mupakatlah pula Sultan Sulaiman dan Datu-datu bendahara yang bernama Tun Abas yang menjadi bendahara Sri Maharaja itu hendak membalas jasa kepada anak raja yang lima budak ini maka memerintahlah Sultan Sulaiman kepada anak raja yang lima beradik ini janganlah kembali ke Bugis dahulu kami meminta salah seorang daripada engkau yang lima beradik menjadi dipertuan muda untuk memerintah kerajaan Riau dan Johor dan Pahang segala takluknya. Maka menjawablah Daeng Perani ianya tidak mau menjadi ketetapan hanyalah adik saya berempat ini. Kemudian menghadaplah Daeng Menambun saya tiada sanggup menjadi raja sebab saya sudah berjanji dengan Sultan akan memelihara akan negeri Mempawah. Kemudian menjawab pula Daeng adapun saya ini selagi ada yang saya tujukan yang tua yaitu Kelana Jaya Putra. Kelana Jaya menjawab pula Daeng Kemasi adalah saya tiada berhajat hendak menjadi yang dipertuan muda Riau ini karna jauh dengan Bugis. Maka menjawab pula Kelana Jaya Putra saya jikalau bercerai ditanah barat ini. Demikianlah kata anak-anak raja yang lima beradik. Apabila Baginda Sultan mendengar perkataan anak-anak raja ini. Maka diamlah sejuruh dan segala orang besar-besar pun diamlah ia semuanya senyap supaya tiada berkata-kata serta berpandangan sama sendirinya seolah-olah tiada berjalanlah maksud Sultan Sulaiman itu berkata pula Daeng Menampuk dengan bahasa Bugis. Janganlah kiranya Paduka kanda sekalian hampakan maksud Sultan Sulaiman tiadalah sedap karena kitapun telah mengangkat dan membesarkan dia. Adapun titahnya atas paduka anak anda sekalian mestilah berlaku. Maka Apu Daeng Perani seperti maksud Paduka Adinda mahu bercerai dengan kakanda adinda maka yaitu pekerjaan mudah juga. Apabila selesai bermusyawarat baginda Sultan Sulaiman dengan Apu-apu Kelana Jaya Putra serta sekalian apu-apu itu, maka tetaplah dan puaslah Apu Kelana Jaya Putra menjadi yang Dipertuan Muda Riau yang pertama dan Daeng dikawinkan dengan Tengku Andak saudara bungsu Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Apu Kelana Jaya Putra menjadi yang Dipertuan Muda di Riau dan Johor dan Pahang segala daerah takluknya. Selesai bekerja melantik baharulah Daeng Menampu nikahkan. Sultan Sulaiman dengan bunda saudaranya yang bernama Tun Tijah. Adapun Daeng Masuru dinikahkan Sultan Sulaiman dengan Tun Kecik saudaranya dan Daeng Mangtua dinikahkan dengan Tun Ainah sepupunya juga Kakanda Sultan Sulaiman yaitu putra almarhum muda.

Syahdan
Adapun yang dipertuan muda Jaya Kelana Putra pergilah ia keperapat parsi dengan disuruh oleh Baginda Sultan Sulaiman mengambil Encik Tun Ayu Jinda Almarhum yang mangkat dijulang ianya belum setiduran dengan Tun Ayu itu lagi kecik dibuatnya istri. Dinikahkan pula dengan Kelana Jaya Putra. Maka dibawah balik ke Riau jadilah istri Dipertuan Muda. Daeng Menampuk pun digelar oleh dipermuda ia Raja Tua memerintah kerajaan yang dijawa. Pertuan muda karena yang dipertuan muda bergelar Sultan Aladin Riayat Syah. Ini Apu seperti yang tersebut didalam cerita itu menjadi raja Bugis. Apu Kelana Jaya Putra inilah permulaan bersetia antara Bugis dengan Melayu. Seperti yang tersebut didalam surat setia ini memerintahkan kemudian tiada berapa lama. Maka Daeng Perani bermohonlah kepada Sultan Sulaiman serta ayahanda yang dipertuan muda. Ianya hendak pergi berlayar. Maka dibendakan paduka Adinda yang dipertuan muda serta Baginda Sultan Sulaiman. Maka Daeng Perani dan Daeng Kemasi sebuah perahu. Apabila tiba di Selangor seorang putri tak berapa lama dapatlah is surat dari pada Raja kepada Daeng Perani hendak minta bantuan karena kerajaannya diambil oleh adiknya patutnya ialah menjadi raja karena ia yang tua maka dibalas oleh Daeng Perani surat itu, maka menyatakan ia bertangguh hendak kembali ke Riau untuk mupakat dahulu dengan saudaranya serta Sultan Sulaiman. Kemudian Daeng Perani balik ke Riau ketiga saudaranya. Maka apabila tibapun tahulah dipermaklumkannya kepada Sultan Sulaiman sera berbuatlah mupakat sekalian maka yang pertuan Muda sama-sama Apu-Apu itu bermohonlah kepada baginda Sultan Sulaiman lali ia berlayar ke Kedah. Maka lalulah berjanji Raja Kedang dengan Apu-Apu itu. Apabila hasil maksudnya ia memberi hadiah kepada Apu-Apu itu lima belas bahra ringgit. Maka jawab Apu-Apu itu mana suka Raja Kedah karena saya semua ini kemari tiada lain hanyalah menolong raja Kedah jua. Maka Apu-Apu itu mengumpulkan segala Bugis-Bugis memang sedia didalam Kedah itu. Lalu diperiksanya sebelah semua dirimu itu adapun patik semua ini tiada tuan Patik semua yang lain melainkan Tuankulah adik-beradik maka jawab apu-apu ini baiklah nanti esok aku hendak menanti raja yang tua itu maka dilantik oleh yang dipertuan Riau Apu-apu ini maka iapun sangatlah marahnya lalulah ia mengumpulkan hulubalang, mentri-mentri Rakyat sudah kumpul lalu ia melanggar negeri Raja Kedah yang tua itu maka pecahlah perang pihak sebelah Raja Kedah yang muda itu karena banyak banglima-panglimanya mati terkerat kepalanya, maka kalah ia lalu undur lari Kedah kepada tempat yang jauh tiada berapa lama Daeng perang ini selesai. Apabila selesai dari berperang ini maka yang dipertuan Kedah hendak minta balik ke Riau. Pekerjaan perangpun sudah selamat maka dibayarlah oleh yang dipertuan Kedah baru tiga bahwa uang ringgit yang lainnya ia bertangguh apabila selesai maka yang pertuan Muda balik ke Riau serta saudaranya. Maka apabila tiba lalu menghadap kepada Sultan Sulaiman serta menceritakan pekerjaan menang perang maka beristri pula Daeng Perani dengan saudaranya yang pertuan Raja Kedah mendapat anak perempuan. Tiada berapa lama Daeng Menambun serta saudaranya Daeng Kemasi bermohon pergi ke Sambas karena Raja Sambas berkirim surat kepada yang dipertuan muda serta apu-apu itu maksudnya itu hendak didudukkan dengan saudaranya salah seorang dengan apu-apu yang lima beradik itu. Tiada berapa lamanya didalam laut tibalah ia ke Sambas lalu masuk ke kawal maka orang besar-besar pun turunlah menyambut disuruh Raja Sambas maka berjumpalah apu-apu bersaudara itu dengan Sultan Adil Raja Sambaspun menikahkan Apu Daeng Kemasi dengan saudaranya bernama Raja Tengah baharulah digelar Apu Daeng Kemasi Pangeran Mangkubumi. Raja Sabas memerintah dibawah Sultan.

Syahdan
Adapun Daeng Menambun apabila sudah Paduka Baginda nikah kahwin itu maka iapun bermohonlah kepada Sultan Sambas hendak balik ke Riau maka berlayarlah. Tiba ke Riau maka Baginda Sultan Muhammad Jainal Abidin menyuruh menyambut menantunya itu maka digelar Pangeran Musa Siti Negara dan isterinya Kemasba. Gelar oleh Sultan Muhammad Jainal Abidin putra itu Raja Agung setahun pangeran Sri Negara itu memerintahkan Negeri Mampauh maka tetaplah Daeng Manimbun itu jadi Raja negeri Mampauh.

Hatta
Tersebutlah Raja Kedah berperang lagi dengan Raja Muda Saudaranya dibantu oleh yang tuanya. Oleh Pertuan Muda Riau serta saudaranya Daeng Perani maka Raja Kecik membantu Raja Muda Kedah kalah lagi. Raja Kedah dengan Raja Kecik lalu Raja Kecik berlayar ke Siak. Raja Kecik kawin pula dengan saudaranya Raja Muda Kedah. Dalam perang inilah Daeng Perani mangkat kena peluru meriam didadanya beranda putrinya dengan nama laki-laki yang dipertuan Muda pun waktu ia tengah berperang besar. Selesai pekerjaan perang maka yang dipertuan Muda pun mintalah balik serta saudaranya Daeng Celak ke Riau. Maka berlayarlah pertuan Muda singgahlah ke Kampar lalulah membawa adinda Sultan Sulaiman bersama balik ke Riau. Adalah Kedah yang kemudian itu pada tahun 1136 masehi adalah kira-kira rianglas setahun dari pada perang Kedah Raja Kecik pun datang pula menyerang Riau pada tahun 1137 pada sebelas hari bulan Sakban permulaan perang pagi-pagi hari. Sebentar perang sebentar berhenti kadang-kadang Raja Kecik masuk kehulu Riau mendapatkan isterinya Tengku Komariah. Berjumpa dengan Daeng Celak. Maka minum bersama-sama maka apabila balik kekubunya berperang pula hingga sampai dua puluh hari bulana Zulhijah kesusahanlah isi negeri maka mpakatlah orang-orang tua dan rang besar-besar bermohonlah kepada orang yang dipertuan Muda serta Raja Kecik itu supaya berdamai. Maka berdamailah kedua pihak itu lalu berhenti berperang. Maka Raja Kecik baliklah ke Siak. Apabila tiba ke Siak maka duduklah ia menyiapkan kelengkapan perang dengan beberapa panah-panah demikianlah tiada hari itu didalamsungai Siak ubat pelurunya.

Syahdan
Pada tahun 1138 Masehi masa itulah turun Sultan Halipah Muhammad Syah ke negeri Kampar menyuruh sumpah setia antara Raja Pagaruyung dengan Raja Johor anak-anak Minangkabau yang di pesisir laut. Adapun bunyi setia itu barang siapa anak Minangkabau di dalam pernawan Raja Johor hendaklah mengikut perintah Johor. Barang siapa tiada mengikuti dimakan sumpah besi kawi tiada selamat sampai ke anak cucunya, dan tiap-tiap satu pekerjaan yang disitanya dikutuknya Allah Subhana wataalla demikian bunyi sumpah setia itu. Adapun surat sumpah setia diperbuat tiga pucuk satu diberikan kepada Baginda Sultan Sulaiman Bahrul Alam Syah yang kedua kepada pertuan muda Sultan Aladin Riayat Syah yang ketiga kepada raja tua Daeng Manimpuk. Adapun Raja Kecik apabila sudah selesai anak-anak Minangkabau yang dipesisir laut itu bersedia dengan orang yang dipertuan itu maka datanglah ke Riau tiba dengan angkatan perang masuklah ke Riau menghadap Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah serta berjumpa dengan yang dipertuan Muda dan Raja tua memohon istrinya hendak dibawa ke Siak yaitu Tengku Kamariah benda Raja Buang itu Sultan Mahmud Siak serta bekabar tiadalah ia berniat salah lagi kepada Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah serta yang dipertuan muda Riau memulangkan rakyat Johor dan takluknya dan rantan Johor maka diterimalah oleh Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah beserta yang dipertuan muda bersumpah didalam masjid Sultan pada tahun 1140 masehi. Adapun sumpahnya demikian bunyinya. Apabila ia berniat salah lagi dan membuat perkelahian dengan Baginda Sultan Besar yang dipertuan Muda melainkan ia tiada dapat selamat seumur hidupnya hingga sampai anak cucunya binasa dan hilang daulat kerajaan seperti timbatu dibelah serta dimakan Besi Kawi. Sudah ia bersumpah itu raja kecikpun kembali ke Siak membawa isterinya. Apabila tiba di Siak tetaplah ia didalam Siak.

Hatta
Tiada berapa lama antaranya pada tahun 1142 masehi maka pada tahun itu maka mungkirlah ia akan sumpahnya itu karena pada sangkanya kalah juga negeri Riau itu olehnya maka bersiaplah ia dengan beberapa kelengkapan maka pergilah ia ke Riau. Haluannya menghadap ke hulu berkubulah ia di Pulau Bayan maka yang dipertuan Muda Daeng Celak pun menyuruh hilad (?) akan penjaganya yang telah disedia didalam sungai itu. Maka disuruhnya berperang dengan Raja Kecik dan beberapa pula sampan-sampan anak Bugis dan anak-anak Pendeka Melayu. Dititahkan keluar dan terusan memintas sebalah kawal Riau. Pihak sebelah belakang kelengkapan Raja Kecikpun kalah. Maka ia sebab banyak oranynya binasa dipintas oleh Bugis dan orang-orang Melayu dari belakang tiadalah berketentuan lagi pada malam itu juga lalu lari balik ke Siak. Pada masa itulah negeri selalu beras mahal didalam negeri Riau enam cupak semasa itu sebab karena negeri selalu bergaduh adik beradik saja.

Syahdan
Lepas daripada perang Baginda Sulaiman serta yang pertuan muda dan Raja tua pergi ke Trenggano untuk merajakan Zainal Abidin bergelar Sultan Zainal Abidin Raja Trenggano maka apabila selesai Raja Tua itupun baliklah ke Riau mempersembahkan pekerjaan yang dititahkan ke Trenggano itu telah selesai.

Hatta
Alkisah Daeng Meriwah Kelana Jaya Putra
Tersebutlah perkataan negeri Riau dan juga pertuan Muda Daeng Meriwah Kelana Jaya Putra serta Paduka Adinda Daeng Celak dan serta Baginda Sulaiman Badrul Alamsyah maka apabila sudah balik Raja Kecik ke Siak maka Baginda serta pertuan Muda pun bermufakatlah membetulkan negeri dan takluknya di rantau Johor inilah dipulangkan oleh Raja Kecik tatkala ia bersumpah didalam mesjid dahulu itu maka keputusan musyawarah itu bagi pertuan muda beberapa kelengkapan dibawa berangkat pergi memeriksa segala jajahan takluk rantau.

Syahdan
Alkisah Dipati Penang Segayu
Didalam tengah-tengah hal yang demikian itu maka Indra Guru sematuk pun sampailah mempersembahkan surat yang pertuan itu maka lalu dibca oleh yang pertuan Muda Surat Daeng Celak maka pahamlah keduanya akan Paduka Baginda Daeng Menambun tengah berperang dan Pangeran Dipati Penang Segayu. Maka menyuratlah yang dipertuan Muda serta paduka Adinda Baginda maka Daeng Celaklah yang akan membantu ke Sempawah itu. Adapun yang pertuan muda hendak berangkat ke sebelah teluk Rantau jajahan Johor yang disebuah pulau perca. Apabila balik yang dipertuan Muda maka barulah Daeng Celak berangkat berlayat Kawal Indragiri Semaluk itu menantikan ia didalam Riau. Apabila selesai musyawarah itu maka yang pertuan mudapun berangkatlah ke Tapuk akan memeriksa segala jajahan itu mengaturkan tempat-tempat itu maka dengan takdir Allah Subhana Wataala yang pertuan Muda pun keringlah sangat maka lali dibawa orang besar-besar dan orang-orang tua di pulau petung segera balik ke Riau berlayarlah serta dengan dayung-dayung apabila sampai maka yang pertuan muda pun dibawalah orang besar-besar jenajah Baginda itu ke Riau. Maka apabila tiba di Riau gamadlah orang-orang yang didalam Riau mengatakan yang pertuan muda mangkat. Maka Baginda Sultan Sulaiman serta Paduka Daeng Celak serta Raja Indrabungsu berangkat membawa jenajah ang pertuan muda itu dengan dukacitanya serta dengan tangis lalu dibawanya naik ke darat ditanam betapa adat raja-raja besar mangkat. Lalu dimakam disungai baru. Maka bergabunglah orang-orang Melayu Riau sebagaimana adat raja-raja serta dengan kendurinya dapat daripada tiga hari sampai empat puluh hari sampai meratus tiga bulan sepuluh hari apabila selesai dari pekerjaan kematian itu maka Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah pun melatikan akan Paduka Adinda Apu Daeng Celak menjadi yang pertuan muda Riau dan Lingga dan Johor dan Pahang serta daerah takluknya bergelar Sultan Aladin Riayat Syah maka yang pertuan mudapun bermohonlah kepada Baginda Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah hendak pergi ke Mempawah Paduka Kakanda Pangeran Emas Sri Negara maka dibenarkan oleh baginda sultan ini pergi ke Mempawah disuruhnya membawa panji-panji perang 20 buah maka dijawabnya yang pertuan muda Daeng Celak tak usahlah membawa kelengkapan banyak-banyak karena negeri kita ini sunyi patik hawatir barangkali datang perkelahian dan pergaduhan karena saudara disana sudah cukup sebab 20 negeri dibawah perintahnya itu. Mempawah dan Sambas lalu berangkatlah yang pertuan muda itu berlayar menuju ke Mempawah dengan 7 buah panji-panji 8 buah perahu Indra Giri Semaluk itu maka tiada berapa hari yang pertuan muda pun sampailah ke sebelah Pulau Kalimantan itu adanya.

Syahdan
Tersebutlah raja landak yang bernama Ratu Bagus apabila ia mendengar Raja Penang Sekayu berperang dengan Raja Besar kita didalam sungai mempawah maka iapun segeralah pergi dengan Raden Usman berjalan serta dibawa orang sekalian orang Islam dan datuk juga mengiring ia berjalan maka sampailah ia ke penang sekayu berjumlah dengan Pangeran Adipati itu maka berkabarlah ia kepada Pangeran dipati itu datang berdua karena hendak mendamaikan Pangeran dan dipati dengan Pangeran Emas Sri Negara itu karena apalah paedah berkelahi berkatalah Pangeran Emas kepada yang pertuan Riau akan maksud Ratu Bagus itu hendak mendamaikan ia dengan Pangeran dipati itu. Maka ia menantikan ihtiar dari yang pertuan muda Johor dijawab yang pertuan Riau dan berdamai itu adinda mohonlah dahulu sebab sudah berperang juga sekalipun apabila adinda datang itu patut juga dibunyikan meriam walaupun sepucuk sekalipun supaya jangan takabur. Empat ia atas kakanda tiada menaruh satu saudara yang jauh pula diperbuatnya setelah mendengar perkataan adinda itu maka Ratu Bagus pun membenarkan juga. Tuan Imam sebulut pun mengharapkan baginda Pangeran Musa Sri Negara memaklumkan hal itu maka bainda itupun menyuruh menyilakan paduka Adinda Baginda yang pertuan Muda Riau. Maka yang dipertuan Riau pun datanglah berjumpa paduka kakanda baginda itu maka Pangeran Emas pun berkabarlah akan maksud Ratu Bagus itu diserahkan kepada paduka Adinda Baginda yang pertuan Riau mana-mana saja yang baik kepada yang pertuan Riau saja maka lalulah yang pertuan muda Riau naik ke istana mendapatkan Ratu Agung Semulum berkabar maksud Ratu Bagus itu maka Ratu Agung Semulum pun berkatalah mana-mana saja yang baik kepada kakanda menurut saja atas kesukaan adinda. Setelah yang pertuan muda mendengar perkataan Ratu Agung Semulum pada pikiran adinda baiklah kita terima karana kita seperti benang putih. Maka yang pertuan mudapun menyerah tuan Imam balik berhatar akan maksud Ratu Bagus pun terlalu sukanya mahulah ia diperhabu oleh Pangeran Musa Sri Negara serta yang dipertuan muda Riau akan Ratu Bagus itu dengan betapa adat raja-raja besar nikah kahwin setelah selesai daripada mandi-mandi habislah pekerjaan itu dan Ratu Bagus digelar oleh yang pertuan muda panglima Perang dan dipertuan muda jadi Panglima Besar. Pada masa itu pergilah ia ke Penang Sekayu berjumpalah yang pertuan muda Riau dengan paduka adinda Pangeran Mangkubumi yaitu Apu Daeng Kemasi maka berpeluk ciumlah bertangis-tangisan dua saudara sebab terkenang saudaranya yang dua orang itu telah mangkat maka datanglah anak Pangeran Musa Sri Negara menyembah lutut paduka Ayahanda yang pertuan muda Riau. Maka yang pertuan muda pun bertanya anak-anak muda ini siapakah. Maka terlalulah sukanya yang pertuan muda itu anak-anak muda ini baik belaka sikapnya serta boleh dihadap didalam peperangan. Selesai perjumpaan itu segala raja-raja mupakatlah akan memulai peperangan. Adapun pangeran dipati serta anandanya Raden jaga ia mendapat kabar akan yang pertuan Muda anandanya Raden jaga ia mendapat kabar akan yang pertuan Muda Riau saudara sudah datang ke sebukit dan Ratu Bagus pun sudah menjadi menantu pangeran Musa Negara itu. Maka ia bermusyawaratlah kepada mentri-mentrinya dan hulubalangnya maka sembah mereka itu adapun patik apa titah perintah sahaja kekuasaan patik tentu kita ini akan membalas karena 4 buah negeri yang kita lawan inilah pekerjaan yang tiada terkira dari mulanya.

Pekerjaan aduka Anda dengan berbuat-buat telah tiada dengan musyawarat dan mupakat dengan orang-orang tua-tua inilah jadinya setelah pangeran dipati mendengar sembah segala menterinya maka terdiamlah ia sebentar sebab sesaklah memikirkannya. Pulang yang sekian itu pada dipati juga sebentar serta orang-orang mati berperang Raden jaga melawan yang sebentar serta orang-orang mati dua tiga orang maka ia pun larilah ke Penang Sekayu maka diikut oleh Bugis-Bugis dan orang-orang Melayu serta orang sebukit diperhambatnya hingga sampai kepada halaman pangeran dipati ini maka dilihatnya kosong tiada orang lagi tinggal barang-barang sahaja. Maka kalahlah Pangeran Dipati. Adapun Pangeran Musa Sri Negara serta Paduka Indra yang pertuan muda serta Pangeran Mangkubumi serta Ratu Bagus berhenti di Penang Sekayu bermusyawarah hendak membutuhkan segara Daek yang takluk ke Penang sahaja. Maka kira-kira 7 hari lepas perang maka yang dipertuan Muda Riau bermohonlah kepada Baginda hendak balik ke Sambas. Maka dibenarkan oleh Kakanda Pangeran Sri Negara maka berangkatlah yang dipertuan muda Riau balik ke Riau. Tiada berapa lama ia dilaut maka sampailah ia ke Riau. Apabila Sultan Sulaiman mendengar kabar Paduka Adinda itu sudah dikawal Riau. Maka disuruhnya menyambut segala orang-orang besar dan raja-raja Indra Bungsupun turunlah menyambut yang pertuan muda maka yang pertuan mudapun naik menghadap paduka Kakanda Bainda Sulaiman sambil berkabar tentang menang perang telah selesai itu. Maka yang pertuan muda pun berangkat naik istana mendapatkan istrinya maka dibadak dilangitnya oleh istrinya serta tiap-tiap adat raja-raja tetaplah yang pertuan muda Riau bersukaan dengan putra-putra bagindapun sudah besar semuanya. Seperti Tengku Putih dan Tengku Hitam dan Raja Haji serta saudaranya itu sudah besar-besar belaka. Adalah jatuh sejarah ini pada tahun 1141 kemudian 1143 masehi yang pertuan muda beristrikan raja bakal maka waktu itu Raja Kecik ke Riau. Memawak Daeng Metaguh minta ampun ia menghadap yang pertuan muda serta memohonkan istrinya atas kesalahannya dimaafkan yang pertuan Muda juga istrinya Raja Tua pula berkata tiada memberi karana sebab belum percaya lagi akan segala perkataannya sebab belum ia bersama-sama Raja Kecik itu maka mendengar perkataan Raja Tua itu maka iapun bermohonlah balik ke Siak. Kira-kira setahun antaranya maka Sultan Zainal Abidin raja Trenggano pun mangkatlah pada selikur dua puluh tujuh hari bulan Ramadan malam ahad subuh pada tahun 1146 pada tahun 1816 masehi. Anak Daeng Celak bermohon kepada Sultan Mahmud Badrul Alamsyah minta didirikan sebuah mesjid di Pulau Penyengat maka diperkenankan oleh Sultan Mahmud Badrul Alamsyah yang membuat mesjid pula Penyengat adalah Sultan Mahmud di Malaka pada tahun 1818 masehi hari Jumat mangkat Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah pada tahun 1211 pada hari Jumat 29 hari bulan Ramadan, digantikan Sultan Abdul Jalil Syah pada tahun 1547 masehi digantikan Sultan Abdurrahman Syah. Mangkat Sultan Abdurrahman Syah pada tahun 1811 masehi digantikan oleh Sultan Mahmud Syah. Waktu itulah Sultan Ibrahim Johor minta tolongkan supaya yang dipertuan Muda Riau yang bernama Megat Sri Rama maka diperkenankanlah apabila sampai Megat Sri Rama dilantikkan menjadi laksamana Bintan pada tahun 1719 menggantikan Megat Sri Rama adalah Tun Bijak Ali Haji. Tun Bijak ini dilantik menjadi laksamana Tun Bijak Ali Jaya pada tahun 1745 masehi.

Syahdan
Alkisah Raja Haji di Malaka
Sultan Ibrahim di Selangor sangat benci dengan orang Holanda yang di Malaka maka bermusyawaratlah dengan orang besar-besar untuk membantu Raja Haji yang sedang berperang melawan Holanda Sultan Ibrahimpun pergi menyerang di Malaka. Dalam perjalanan Raja Selangor berhenti keramban untuk meminta bantuan kepada penghulu empat suku dengan perlengkapan perang cukup kuat maka berangkatlah raja Selangor menuju Malaka untuk membantu Raja Haji yang berperang dengan orang Holanda. Kubu-kubu pertahanan dibuat oleh orang-orang empat suku di Tanjung Ketapang dan kubu yang besar di Teluk Kepatang dan kubu yang lain ada di sungai buru di Batang Tiga. Berapa lama kemudian dapat habar oleh orang Belanda di Malaka maka berperang Raja Selangor dengan orang Holanda di Batang Tiga serangan orang Holanda dapat dirangkis oleh Raja Selangor, maka datanglah Armada dari Holanda itu ke Malaka. Raja Selangor merubah siasat untuk menyerang orang Holanda di Malaka. Raja Selangorpun pergi kesuma untuk berjumpa dengan Raja Haji. Pada tanggal 16 Juni tahun 1784 datanglah kapal perang Holanda Betawi yang bernama Prancis Peter untuk membantu Holanda di Teluk Ketapang Malaka. Maka diserbu oleh orang Holanda dari Batavia terkepunglah Raja Haji dan Raja Selangor serta panglima-panglima dari rembawa dan Selangor itu pasukan Holanda menyerang dan mendarat di kubu Raja Haji di Teluk Ketapang pada tanggal 18 Juni 1784 waktu subuh datanglah serangan orang-orang Holanda menyerang ketempat kubu Raja Haji Raja Selangor di Teluk Ketapang. Terjadilah perang Raja Haji Raja Selangor peperangan Raja Haji sangatlah marahnya tak ingat lagi hidup dan mati banyaklah panglima-panglima dari Malaka dan dari Selangor mati. Pada tanggal 21 tahun 1784 mengamuklah Raja Haji dan Raja Selangor kira-kira pukul dua malam hari sebuah peluru meriam Holanda menembus dada Raja Haji waktunya Raja Haji di Teluk Ketapang. Disebut orang mendeka Teluk Ketapang maka dengan marahnya ia mengamuk banyak juga orang Holanda mati pada tanggal 24 Juni 1784 jenajah Raja Haji dimasukkan kedalam keranda dibawa dengan kapal perang Malaka dibawa ke Malaka. Pukul dua tengah malam jenajah Raja Haji diturunkan di pelabuhan malaka dan kapal Malaka berpindah ke kalap Holanda jenajah dibawa naik, maka dengan ajaibnya begitu jenajah Raja Haji diangkat dengan tiba-tiba meletus kapal orang Holanda luka-luka ketika kapal itu meletus. Kita 203 orang Holanda hancur kapal itupun tenggelam ke laut Malaka. Pada tanggal 26 tahun 1784 masehi Raja Haji dimakamkan di Bukit Malaka disebut orang bukit Bendara setelah selesai waktu Raja Haji disebut orang Malaka Raja Haji Mendika Teluk Ketapang pada tanggal 1 Nopember 1784 membuat surat tanda kalah maka ditanda tangani oleh Raja Selangor.

Syahdan
Pada tahun 1079 orang Holanda mulai menyerang Riau mendapat habar oleh Sultan Mahmud Alamsyah memanggil laksamana Tun Bijak Ali Jaya suruh bersiap-siap pendeka sebab orang-orang Holanda hendak berperang Riau Gubernur Akub Peter menyuruh Tun Bijak Ali tandan tanya untuk bikin perjanjian persahabatan setia dengan orang Holanda. Dengan marahnya Tun Bijak Ali Jaya dengan dikoyak-koyaknya surat berjanji orang Holanda itu maka marahlah orang Holanda kepada Tun Bijak Ali Jaya maka orang Holanda balik ke Malaka. Masa itu Tun Bijak Ali Jaya maka bermuarah dengan Raja Tun Encik Andak namanya serta Tun Abdul Majid dan Tumenggung Abdul Jalam serta Raja Indra Bungsu untuk melawan Holanda banyaklah orang Holanda mati diujung Tanjung Jembat disebut dan orang Bunkung yang tanjung banyak orang Holanda putus kepala dan tangan kaki berkata didalam sejarah Riau kekuatan laksamana Tuah adalah keris Taman Sari. Kekuatan Megat Sri Rama di Johor adalah keris bernama Sila Dati kekuatan laksamana Tun Bijak Ali Jaya adalah keris Sepina Ria yang dibuat Datuk Lila Bungkak. Bangsawan dikawal Daeng pulu Mampang. Kekuatan Tun Abdul Majid adalah keris Si Rambi buatan Datuk Kaya Hitam Jambi di Tanjung Jabung. Kekuatan Tun Jamal adalah keris Kambat buatan Datuk Kaya di ujung Tanjung Jabung Jambi. Kekuatan Raja Bungsu adalah keris Singa Menangis buatan Datuk Unus di Galang kekuatan Raja Tua adalah Sundang Mas asli dari Kudi kain hulunya adalah Tulang Hidung Muasi sesuatu apu-apu pun tidak dapat menembus tubuh badannya.

Hatta
Tersebutlah kisahnya Holanda Tuan Yakub menyerang Riau maka kubu-kubu di Pulau Penyengat siaplah Tun Jamal serta Tun Haji Abdurrahman kubu di Pulau Bayan pun sudah siap dengan Tun Abdul Majid. Tun Bijak Ali Jaya diistana dihulu Riau tiada berapa lama meletuslah meriam seperti di Bukit Kursi Pulau Penyengat maka pecahlah kepada Holanda yang dipimpin oleh Tun Yakub masa itulah Tun Bijak Ali membawa Sultan Mahmud Alamsyah ke Johor. Sampai Sultan Mahmud ke Johor maka waktu itu juga Tun Bijak Ali berlayar ke Johor. Pada tanggal 30 Oktober 1784 Sultan Mahmud sampai ke Johor. Maka amukan Tun Bijak Ali Jaya serta panglima-panglimanya terus berperang melawan Holanda ke Riau. Mangkat Raja Tua Encik Handak sewaktu itu sering mengambil air sembahyang karena sundangnya dilepasnya karena peluru Holanda di Pulau Bayan dimakamkan Sungai Baru. Apabila kapal Holanda sudah di Pulau Penyengat meletuslah meriam seperti di Bukit Kursi maka tenggelamlah kapal Holanda itu diselat luas maka kapal itu menjadi pulau disebut orang Pulau Kapal. Amukan Tun Bijak Ali Jaya dengan panglima-panglima Riau maka habis semuanya orang Holanda dipotong lehernya kaki tangannya dibuang diujung Buntung maka larilah ke Betawi. Batavia pada tanggal 10 Nopember 1908 datang lagi kapal perang Holanda dari Batavia maka berperanglah pasukan Tun Bijak Ali dengan panglima-panglima empat hari empat malam perang tiada berhenti waktu itu Tun Majid kena peluru Holanda di dadanya disungai ladi Pulau Penyengat waktu Tun Majid tengah mengambil air sembahyang subuh. Mangkat Tun Abdul Majid di Pulau Penyengat pada tanggal 11 tahun 1908 dimakam di kampung Ladi ditepi pantai di Sungai Ladi. Maka kalah Holanda larilah balik ke Batavia pada tahun 1910 datang lagi melingkar Riau maka berperanglah Tun Bijal Ali Jaya melawan Holanda ditembaklah Tun Abdul Jamal dengan meriam sakti dibukit Kursi di Pulau Penyengat maka hancurlah kapal Holanda mengajar Tun Bijak Ali Jawa kedada orang Holanda itu bergelimpangan mayat-mayat orang Holanda dahulu Riau dikata dengan mendin. Putri Tengku Komariah disebut air raja. pada tahun 1910 pada hari Jumat mangkatlah Tun Bijak Ali Jaya. Hulu sungai Riau dimakamkan di Sungai Baru maka kalahlah Tun Bijak Ali Jaya tanggal 11 bulan 12 bertanda tanya bahwa Riau diserah kepada Holanda yang bernama Tuan Yakub Peter Maak ditanda tanya oleh Raja Indra Bungsu maka Sultan Mahmud tidak senang maka berperang lagi dikumpul orang pendekar-pendekar Bugis serta orang Melayu Riau yang digalay karena surat perjanjian sudah ditandatangani oleh Raja Inda Bungsu maka menyerahlah Sultan Mahmud Alamsyah. Menyerah Riau kepada Holanda dengan perjanjian Kerajaan Islam pada tanggal 12 bulan 12 tahun 1911 beberapa lamanya Sultan Mahmud meminta Tun Bijak Ali Jaya dipindah dibukit Kursi Pulau Penyengat. Maka disebut orang Tun Bijak Ali Jaya perang sabil untuk membela kaum Islam. Sebab Tun Bijak Ali Jaya wafat hari Jumat di mesjid Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Keris Sempina Riau ada tersimpan di Pulau Maku Lingga dengan berakhirnya riwayatnya ini Bijak Ali Jaya di Riau. Keris Sila Dati tersimpan di Pulau Mintang Keris Sri Rambai ada simpan di Jambi Keris Sri Kambat disimpan di Teluk Rampang Kampung Kawal Dika Keris Singa Menangis ada tersimpan Mantang Riau kepada Batin Sari Keris Sempina Riau tersimpan di Mantang Arang kepada Hakim lekuk teluk Kedundung.

Syahdan
Alkisah anak raja Bugis yang lima beradik Raja Haji Abdullah menjadi yang dipertuan muda di Riau. Putra almarhum Raja Jakfar bangsa Bugis yang kedua Daeng Maliwah menjadi yang pertuan muda. Mangkat Daeng Maliwah dipulau Putung ianya pergi ke Selangor untuk membantu Raja Selangor diganti Daeng Celak yang ketiga Daeng Manbun mangkat ia dibunuh oleh lanun diselat Timang. Laiman orang Cina diganti oleh Sultan Mahmud Alamsyah adalah Tun Bijak Ali Jaya bergelar laksamana Tun Bijak Ali Jaya Putra. (gufron)

Sumber:
Galba, Sindu dan Nismawati Tarigan. 2001. Naskah Kuno Riwayat Sejarah Riau. Tanjungpinang: Bappeda Kabupaten Kepulauan Riau dengan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.

1 Ke 28 negera itu (berdasarkan abjad) ialah: Afrika Selatan, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Belgia, Brunei, Cekoslovakia, Denmark, Hongaria, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman, Malaysia, Mesir, Norwegia, Polandia, Perancis, Rusia, Singapura, Srilanka, dan Thailand.
2 Ada beberapa pengertian tentang naskah Melayu Riau. Pertama, semua naskah yang berasal dari Riau. Kedua, naskah lama karya penulis asal Riau (Hamidy, 1986: 137).
3 Menurut umum, naskah sering diartikan sebagai sesuatu yang tertulis dan asli. Namun, menurut ilmu perpustakaan dan filologi, tidaklah demikian. Ia diartikan lebih sempit dari pengertian khalayak ramai, yaitu sesuatu peninggalan dari masa lampau dalam bentuk tertulis (Ikhram, 1993). Naskah sering disebut sebagai manuschrift (di-Indonesiakan menjadi “manuskrip”). Istilah ini berasal dari bahasa Belanda; manu berarti “tangan” dan schrift berarti “tulisan”. Jadi, sesuatu yang ditulis dengan tangan (karena pada waktu itu percetakan belum ada atau belum lazim) disebut sebagai naskah. Namun, perkembangan zaman pada gilirannya membuat apa yang disebut sebagai naskah tidak hanya berupa tulisan tangan saja, tetapi dapat juga dalam bentuk yang sudah dicetak (lihat juga Hamidy, 1986).
hal
Dilihat: