Tuan Guru

(Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat)

Pada suatu hari, ada seseorang yang amat sakti bernama Tuan Guru. Ia adalah seorang pengembara dan sekaligus sebagai penyebar agama. Dalam pengembaraannya itu, suatu saat ia tiba di sebuah Gili1 yang bernama Gili Terawangan. Di Gili Terawangan itu ia berjumpa dengan seorang manusia. Tuan Guru pun kemudian bertanya.

“Apakah saudara pernah mempelajari agama?”

“Belum,” demikianlah jawab orang yang ditanya.

“Kalau demikian, maukah saudara mempelajarinya? Saya sanggup menjadi guru saudara.”

“Ya, saya mau. Memang sejak lama saya berniat mempelajari agama, tetapi saya belum menemukan seorang guru. Bila tuan berkenan mengajar saya, saya pun sangat mengharapkannya.”

“Baiklah saudara akan saya berikan pelajaran tentang agama.”

Mulai saat itu Tuan Guru memberikan pelajaran agama. Ia memberikan berbagai macam ilmu. Di antara ilmu-ilmu yang diajarkan, ada yang bernama Ilmu Bunga Laut. Sedang ilmu yang lain meliputi agama dan adat istiadat. Singkat cerita, setelah berlangsung beberapa bulan, tamatlah pelajaran tersebut. Tuan Guru pun berkata.

“Nah, setelah semua pelajaran yang kuberikan kau pahami, patuhilah semua itu. Janganlah kau langgar. Karena semua pelajaran itu sangat kuyakini.”

“Baiklah Tuan Guru,” kata muridnya.

“Janganlah melalaikan kewajiban sembahyang lima waktu, sebab merupakan kewajiban umat Islam.” Demikianlah kata Tuan Guru.

“Baiklah Tuan Guru.”

“Setelah kau paham benar, kaulah yang harus menjadi guru, memberikan pelajaran agama kepada kaum kerabatmu kelak. Ibarat benih, akulah yang membibit dan kaulah bibitnya. Bibit ilmu pengetahuan namanya. Bibit itulah yang akan berguna kemudian hari. Bimbinglah kaum kerabatmu,” kata Tuan Guru.

“Baiklah Tuan Guru,” jawab murid itu.

“Nah, karena kau telah tamat, aku akan melanjutkan perjalananku. Terlarang bagiku untuk menetap pada suatu desa. Wilayah yang belum mengetahui pelajaran agama harus kukunjungi. Dan bila penduduknya mau menerima tentu mereka akan kubimbing.”

“Baiklah Tuan Guru.”

“Aku akan berangkat,” demikian kata Tuan Guru.

Kemudian mereka berjabatan tangan dan berpisah. Setelah berjalan dan tiba di tepi pantai, Tuan Guru melihat sebuah sampan.

“Tuan Guru hendak menyeberang?” kata pengayuh sampan itu.

“Ya, aku berniat ke daratan Lombok.”

“Silakan Tuan Guru, naiklah ke sampan saya.”

“Baiklah, terima kasih.”

Kemudian Tuan Guru naik ke atas sampan dan sampan itu pun segera berlayar. Setelah berlayar beberapa lama, akhirnya sampan itu mendarat di pantai Bayan. Setelah berada di Bayan dan bertemu dengan seorang penduduk, Tuan Guru pun bertanya.

“Desa apakah namanya ini?”

“Desa ini bernama Bayan,” kata orang itu.

Tanpa berbasa-basi lagi, Tuan Guru pun segera mengungkapkan niatnya, “Pernahkan saudara mempelajari agama?”

“Belum, belum pernah.”

“Kalau demikian bagaimana cara saudara melaksanakan agama selama ini?”

“Saya belum mengetahuinya. Saya disarankan oleh orang tua saya, agar mencari seorang guru agama Islam. Bila guru itu datang saya diwajibkan belajar padanya. Demikian pesan orang tua saya.”

“Kalau demikian saya bersedia membimbing saudara.”

Demikianlah, akhirnya Tuan Guru itu menyelenggarakan suatu pelajaran. Ia mengajarkan syareat Islam dan adat istiadat. Setelah berlangsung selama dua bulan, tamatlah pelajaran itu. Murid itu sudah dapat melaksanakan ibadat secara Islam. Dan ia pun dinyatakan tamat.

Sementara itu, muridnya yang berada di Gili Terawangan, merasa sangat rindu akan gurunya. Ia berkata kepada isterinya.

“Aku sangat ingin menemui Tuan Guru. Aku berniat mencarinya. Bukankah beliau telah mengajarkan kepada kita ilmu yang sangat bermanfaat, sehingga hidup kita menjadi sejahtera.”

“Kalau demikian kehendakmu, berangkatlah,” kata isterinya.

Setelah mendapat restu dari isterinya, kemudian berangkatlah ia menuju Bayan. Setiba di pantai ia berpikir dalam hati, “Tak sebuah sampan pun yang tampak, bagaimana caranya agar aku dapat menyeberang?”

Akhirnya ia teringat akan Ilmu Bunga Laut yang telah diterimanya dari Tuan Guru. Setelah itu lafal mantra diucapkan, untuk menghidupkan ilmu tersebut. Dengan seketika air laut menjadi padat dan ia pun dapat berjalan di atasnya. Setelah beberapa lama berjalan meninggalkan pantai, ia pun tiba di Desa Bayan dan berjumpa dengan Tuan Guru yang kebetulan sedang berada di tepi pantai.

“Lho, kau datang! Ada apakah?” tanya Tuan Guru.

“Saya berniat menemui Tuan Guru. Tuan Guru saya undang untuk datang di desa kami. Kami sangat merindukan Tuan Guru karena telah lama tak berjumpa. Di samping itu cobalah Tuan Guru teliti pelaksanaan pelajaran yang Tuan Guru berikan dahulu. Sudahkah benar atau belum. Itulah maksud saya mengundang Tuan Guru untuk datang ke Gili Terawangan.”

“Baiklah. Tiga hari lagi aku akan datang,” jawab Tuan Guru.

“Terima kasih Tuan Guru, kami menunggu.”

Murid itu kemudian mohon diri. Setelah tiba di tepi pantai, kembali ia mengucapkan mantra Ilmu Bunga Laut. Seperti biasa, Tuhan memberkahi keampuhan ilmunya dan laut pun menjadi padat. Ia berjalan di atasnya dengan mudah. Akhirnya tibalah ia di seberang dan berjumpa dengan isterinya.

“Berjumpakah kau dengan Tuan Guru?” tanya isterinya.

“Ya.”

“Bisakah ia memenuhi undangan kita?”

“Ya, bisa.”

“Jika demikian……..”

“Tiga hari lagi siapkanlah semua persediaan untuk Tuan Guru. Baik makanan maupun minuman. Tiga hari lagi ia akan datang” jawab suaminya.

Namun, murid itu hanya semalam berada di rumahnya, keesokan harinya pada hari Jumat, ia meninggal dunia. Seperti yang dikatakan oleh Tuan Guru ketika ia memberi pelajaran agama, bahwa setiap orang yang benar-benar taat melakukan ibadat kepada Tuhan pasti akan meninggal dunia pada hari Jumat. Demikianlah, murid ini telah meninggal pada hari Jumat. Dan, murid itu pun akhirnya dikubur pada hari itu juga.

Tiga hari kemudian tibalah waktunya bagi Tuan Guru untuk datang di Gili Terawangan seperti dijanjikan. Tepat pada hari Sabtu, berangkatlah Tuan Guru meninggalkan Bayan menuju ke tempat penyeberangan. Setibanya di pantai, tidak ada satu pun sampan yang terlihat di sana.

“Ah, muridku kemarin terpaksa berjalan di atas air karena tidak ada sampan. Aku yang mengajarinya Ilmu Bunga Laut, hingga ia berhasil. Aku mesti berhasil juga. Ya, aku masih ingat lafal mantranya.”

Saat itu, tiba-tiba datang seorang pemilik sampan dan menyapanya.

“Tuan Guru hendak menyeberang?”

“Ya.”

“Silakan naik ke sampan saya.”

“Ah, aku tak suka mempergunakan sampan. Aku dapat berjalan di atas air. Aku seorang Tuan Guru, percuma mempergunakan sampan.”

“O, ya sudah. Silakan Tuan Guru, saya mohon pamit,” kata si pemilik sampan sambil mendayung sampannya.

Setelah sampan agak jauh, Tuan Guru mulai melafalkan mantra Ilmu Bunga Lautnya. Tetapi air laut tidak menjadi padat dan masih tetap seperti biasa. Tuan Guru tetap mencoba juga berjalan di atasnya. Dan, seluruh tubuhnya masuk ke dalam air. Ia basah kuyup. Dengan cepat ia naik ke darat lagi.

“Lho, kalah aku oleh muridku. Ia berjalan di atas air, mengapa aku tidak? Malu benar aku. Bila aku mempergunakan sampan menyeberang, sungguh sangat malu karena telah kukatakan percuma memepergunakan sampan,” pikirnya dalam keadaan pakaian serba basah.

Tiba-tiba mendekat seorang pemilik sampan yang lain.

“Tuan Guru hendak menyeberang?”

“Ya,” jawabnya.

“Mengapa Tuan Guru basah kuyup?”

“Tiba-tiba tadi aku dihantam ombak besar,” kata Tuan Guru berbohong. Ia malu mengatakan ilmunya tak mempan lagi. Ia malu mengatakan dirinya tenggelam. Sambungnya lagi:

“Ah, biarlah. Nanti kujemur pakaian ini. Celaka, ombak itu tiba-tiba menghantam ke tepi, menyebabkan aku basah kuyup.”

“Ah, sial benar. Sekarang silakan naik Tuan Guru, agar kita cepat tiba di seberang.”

“Baiklah.”

Demikianlah, akhirnya Tuan Guru bersedia juga mempergunakan sampan. Di sampan Tuan Guru merasa sangat dingin. Ia kedinginan.

Setelah sampan itu telah tiba di pantai Gili Terawang. Tuan Guru naik ke darat dan menuju Desa Gili Terawang. Namun, tidak berapa lama kemudian ia telah kembali lagi ke pantai.

“Lho, mengapa Tuan Guru cepat kembali?” kata si pemilik sampan.

“Ya, karena muridku telah meninggal dan telah dikebumikan ketika aku tiba di Gili Terawang. Maksudku memang memenuhi undangannya, tetapi ia telah tiada” kata Tuan Guru, sambil melompat ke atas sampan.

Dalam perjalanan pulang itu Tuan Guru selalu gelisah. Ia bingung, harus mengatakan apa nanti apabila ditanya orang mengenai caranya menyeberang laut. Ia telah berbohong pada seorang pemilik sampan yang ada di desanya bahwa dia dapat berjalan di atas air. Ia takut kalau kebohongannya diketahui oleh warga desa, padahal selama ini ia selalu mengajarkan agar mereka selalu jujur dan jangan pernah berbohong.

Sesampai di tengah desa, orang-orang telah berkurumun. Mereka ingin mendapat penjelasan tentang kebenaran cerita mengenai kesaktian Tuan Guru yang dapat berjalan di atas air.

“Dengan apa Tuan Guru menyeberang?” tanya salah seorang dari mereka setelah Tuan Guru berada di tengah-tengah kerumunan.

“O, tentu saja aku berjalan di atas air,” kembali Tuan Guru berbohong.

Tuan Guru terpaksa berbohong lagi. Ia malu apabila berterus terang bahwa ilmunya telah hilang. Dan apabila kebohongan itu diketahui masyarakat, maka Tuan Guru khawatir mereka akan pergi dan tidak mengakuinya lagi sebagai pemimpin. Dan, sebelum kebohongannya tarungkap, Tuan Guru berniat untuk meninggalkan desa itu. Cara yang dilakukannya adalah dengan menggunakan ilmu yang dapat membuat seolah-olah dirinya meninggal. Ilmu itu akan dipakainya pada hari Jumat, sehingga ia akan dianggap sebagai orang yang selalu taat menjalankan ibadahnya.

Pada pagi hari yang telah ditentukan, yaitu malam Jumat, Tuan Guru pun mulai melafalkan mantranya. Ketika orang-orang datang untuk mendengarkan pelajaran agama di rumah Tuan Guru, mereka melihat Tuan Guru telah terbujur kaku. Mereka mengira Tuan Guru Telah meninggal dunia. Malam itu suasana menjadi sangat ramai. Semua orang datang dan berjaga semalam suntuk.

Karena lama terbaring, akhirnya Tuan Guru merasa lelah. Ia tak tahan tidur terlentang dalam waktu yang cukup lama. Ia ingin bergerak tapi tak bisa karena orang banyak berjaga-jaga. Akhirnya timbul akal bulusnya lagi. Ia teringat akan ilmu sirep2 yang dikuasainya.

Beberapa saat kemudian, Tuan Guru pun mulai melafalkan mantra ilmu sirepnya. Dan, seluruh orang yang hadir di situ merasa mengantuk dan akhirnya tertidur dengan lelap. Suasana berubah menjadi sepi. Setelah suasana demikian sepinya, Tuan Guru mulai membuka kain kafan yang menyelubunginya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Ia berpikir, dengan menghilangnya jasadnya, masyarakat desa akan semakin percaya bahwa ia adalah orang suci dan bakal selalu dikenang di desa itu. Ia melangkah kaki menuju perbatasan desa dan beberapa jam kemudian sampai di hutan subur yang bernama Marong Meniris.

Saat berada di tengah hutan itu, Tuan Guru merasa lelah. Ia kemudian beristirahat di bawah sebuah pohon yang amat besar hingga tertidur. Saat matahari menyingsing, terbangunlah Tuan Guru secara tiba-tiba, karena mendengar ada suara langkah kaki menuju ke arahnya. Langkah kaki itu adalah milik seorang tukang kayu yang hendak menebang pohon untuk membuat membuat rumah. Tuan Guru kemudian langsung memanjat pohon agar tidak terlihat oleh si tukang kayu.

Setelah si tukang kayu menebang pohon yang letaknya berdekatan dengan pohon tempat Tuan Guru bersembunyi, ia pun beristirahat sejenak sambil mengunyah sirih. Dalam menikmati istirahat itu, ia melepaskan pandangannya ke berbagai arah. Dan saat ia memandang ke atas, tiba-tiba matanya terumbuk pada sesosok tubuh manusia.

“Lho, ada manusia di atas,” gumamnya.

Kemudian dilihatnya manusia itu tampak meniti pada batang pohon untuk menyembunyikan diri.

Saat Tuan Guru bergerak itu, si pencari kayu mengenali pakaiannya. Ia telah tahu betul bahwa baju yang tampak olehnya itu adalah kepunyaan Tuan Guru. Baju itu telah terlalu sering dilihatnya.

“Astaga, tampaknya itu Tuan Guru. Orang desa mengatakan bahwa ia sudah meninggal sebagai orang suci, karena lenyap dengan jasadnya. Tetapi yang kulihat itu pasti Tuan Guru. Mengapa ia bergantung di pohon ini. Ah, sebaiknya aku pulang, dan memberitahu kawan-kawan.” Pencari kayu itu pun segera berlari pulang untuk memberitahukan pada orang banyak.

“Lho mengapa kau cepat benar kembali,” tanya kawan-kawannya setibanya di desa.

“Aku terkejut di hutan. Kalian semua sudah mengetahui, bahwa Tuan Guru yang telah meninggal lenyap dengan jasadnya. Bukankah ulama yang sejati kalau meninggal mesti lenyap dengan jasadnya? Tetapi nyatanya Tuan Guru masih hidup. Aku melihat dia berada di hutan!”

“Baik, marilah kita lihat bersama-sama,” kata kawan-kawannya.

Setelah tiba di tempat yang dituju, semua menyaksikan memang benar bahwa Tuan Guru berada di atas pohon dan sedang berpegangan pada rantingnya. Melihat dirinya diperhatikan oleh orang banyak, Tuan Guru bergerak hendak menyembunyikan diri. Dan, secara tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi kalong.

“Lho, mana Tuan Guru? Kok tiba-tiba ada seekor kalong di pohon itu,” kata salah seorang penduduk.

“Dialah Tuan Guru. Lihat saja baju yang dipakai kalong itu. Itu baju Tuan Guru,” kata teman yang satunya lagi.

“Benar, benar, tetapi mengapa ia menjadi kalong?” tanya yang lain.

Rupanya Tuan Guru telah dihukum Tuhan menjadi kalong. Ia dihukum karena sudah terlalu banyak membohongi orang. Sejak peristiwa itu, daging kalong diharamkan oleh masyarakat setempat karena merupakan penjelmaan Tuan Guru.

Sumber:
Diadaptasi bebas dari Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

1 Gili adalah pulau kecil yang menjadi bagian (anak) pulau lain yang lebih besar.
2 Sirep adalah ilmu gaib yang dipergunakan untuk membuat orang agar mengantuk dan tertidur.
hal
Dilihat: