Jaring Buru (Jawa Barat)

Selain kujut dan dorlok, ada satu perangkap lagi yang oleh pemburu dan atau peladang disebut sebagai “jaring”. Perangkap ini terbuat dari tambang yang berdiameter sekitar 0,1 sampai dengan 0,2 sentimeter. Tambang tersebut dianyam sedemikian rupa sehingga membentuk bujur sangkar. Setiap jaring sisi-sisinya ada yang sekitar 1 meter, tetapi ada juga yang sekitar 2 meter. Dengan perkataan lain, ada yang luasnya sekitar 1 meter persegi dan ada juga yang sekitar 2 meter persegi. Penggunaannya bergantung banyak atau besar kecilnya binatang yang diburu (bagong). Setiap sudut jaring tambang sengaja tidak dipotong, malahan dibiarkan panjang sesuai dengan kebutuhan. Maksudnya, jika perangkap ini dipakai, maka tambang-tambang tersebut ditalikan ke pohon-pohon terdekat. Dengan demikian, jaring akan mengembang dalam posisi tegak.

Penangkapan dengan jaring mesti dibarengi dengan pencarian, pengejaran, dan pengarahan larinya bagong. Sebab jika tidak, kemungkinan untuk memperoleh bagong sangat kecil (kalau tidak dapat dikatakan sia-sia), karena jaring akan berfungsi jika diterjang oleh bagong secara keras-keras. Dengan terjangan atau tabrakan yang keras, tambang-tambang yang ditalikan pada pepohonan akan putus. Dan, dengan putusnya tambang, maka bagong akan terguling-guling dan sekaligus terjerat oleh jaring. Dengan demikian, bagong akan tertangkap hidup-hidup.

Jaring juga dapat dipasang mendatar (di atas permukaan tanah). Caranya sama seperti pemasangan jiret, yaitu di setiap sudutnya ditalikan pada pohon-pohon yang bisa dilengkungkan, kemudian diberi pemberat dan ditutup dengan denaunan kering. Dengan cara seperti ini, jika ada bagong yang lewat dan menginjaknya, maka pemberat akan bergeser dan tali terangkat bersama bagong di dalamnya. (pepeng)
hal
Dilihat: