Gangan Patin (Makanan Tradisional Orang Penghulu)

Gangan adalah bentuk masakan berkuah yang tidak memakai bahan santan atau kelapa. Bentuk masakan ini sangat dikenal baik oleh masyarakat Penghulu baik yang di daerah Sarolangun maupun Merangin. Ditinjau dari cara pengolahannya, maka bentuk masakan gangan lebih cepat saji daripada gulai karena waktu pengolahannya lebih cepat.

Pada masakan gangan, posisi atau fungsi kelapa dapat tertutupi dengan adanya kemiri. Kemiri banyak ditemukan di daerah ini, terutama di lembah-lembah subur dekat atau dalam perkampungan. Rasa yang ditonjolkan dalam makanan ini adalah rasa pedasnya yang menambah selera makan. Bagi anak-anak, gangan dengan ukuran cabe yang sewajarnya tidaklah cocok, maka bila makanan gangan dibuat di rumah, ukuran cabenya dapat dikurangi.

Adapun bahan-bahannya adalah ikan patin satu kilogram, kunyit satu centimeter, jahe satu centimeter, kemiri dua buah, bawang putih tiga siung, bawang merah lima siung, cabe merah setengah ons, cabe rawit setengah ons, minyak sayur dua sendok makan, daun salam satu atau dua lembar dan garam secukupnya.

Pengolahannya mula-mula ikan patin dibersihkan, kemudian dipotong-potong. Bawangnya diiris-iris. Setelah itu minyak dipanaskan, lalu masukkan bawang yang telah diiris dan tumis sampai berwarna kuning, lalu masukkan bumbu yang telah dihaluskan dan tumis sampai matang. Setelah itu masukkan air kira-kira lima gelas. Masak sampai mendidih. Setelah airnya mendidih masukkan ikan, kemudian daun salam. Setelah ikannya empuk, maka masakan boleh diangkat.

Gangan ikan patin hanyalah salah satu bentuk masakan dari berbagai macam gangan. Gangan adalah bentuk dasar dimana hanya mengandalkan air biasa dengan bumbu-bumbu tanpa kelapa. Untuk daerah dataran tinggi yang tidak ditumbuhi kelapa atau transportasi sulit, maka makanan ini sering dibuat, seperti daerah Jangkat, Tabir Ulu dan lain-lain.

Makanan berkaitan dengan lingkungan alam dan masyarakatnya. Lingkungan alam daerah Kabupaten Sarolangun, keadannya adalah berupa dataran rendah yang luas, yang terletak dalam koordinat 1º22´-2º20´ LS dan 101º31´-103º14´ BT. Letak geofragis berada pada ketinggian yang berkisar antara 40-100 meter diatas permukaan laut (dpl). Keadaan alamnya sebagian besar merupakan hutan, di luar itu adalah perkampungan dan pertanian.

Jenis tanah adalah tanah passolik, andasol, komplek latosol dan litasol, hidromafik kelabu, humus dan organasal. Areal tanah ± 85,4% merupakan hutan yang ditumbuhi berbagai jenis pohon-pohonan, dimana yang paling dominan adalah karet atau yang menurut orang setempat disebut pohon parah. Selain itu, masih banyak pohon-pohon lain seperti durian, jengkol, petai dan rotan dari berbagai jenis. Hutan-hutan tersebut menjadi tempat yang teduh bagi hewan-hewan buruan seperti : babi hutan dan lain-lain. Binatang-binatang lainnya seperti kera, rusa, bahkan menurut penduduk setempat masih ada harimau dan gajah.

Makanan gangan ikan patin ini termasuk salah satu makanan sehari-hari yang diolah sebagai lauk pauk. Fungsinya selain makanan lauk sehari-hari, dipakai juga pada waktu adanya pesta atau upacara berselang, sebagai hidangan yang dipersembahkan tuan rumah (pemilik sawah) kepada semua para undangan disamping berbagai macam makanan lauk pauk lainnya.

Jadi nilai yang terkandung dalam makanan ini selain nilai sosial, ekonomis, juga terdapat nilai budaya, karena orang yang ikut berpartisipasi terutama muda mudi sangat memperhatikan makanan yang ditampilkan pada upacara yang hanya sekali satu tahun dalam satu komunitas desa. Kemudian dengan tampilnya makanan ini dalam acara penting seperti upacara berselang itu, maka generasi berikutnya juga akan tersosialisasi dengan bentuk masakan atau makanan gangan ini.

Sumber:
Hidayah, Zuliany. 1997. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. LP3ES Indonesia: Jakarta.

Zulvita Eva, dkk. 1993. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Dalam Pemeliharaan Lingkungan Hidup di Daerah Propinsi Jambi. Departemen P dan K. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional: Proyek P2NB.
hal
Dilihat: