Pepatah Orang Rembong (Flores Barat)

1. Ubi manis bertuan, berpancang sembarang pancang
Dikatakan kepada seorang suami, yang tidak mampu memberikan nafkah batik kepada sang isteri.

2. Bertemanlah sesama hidup, (kalau) mati berkalang tanah.
Mengajak semua orang, supaya hidup lebih banyak berteman dan berdamai terhadap satu sama lain, karena di dalam liang kubur tak ada kedamaian atau persahabatan.

3. Rambut tampak mengkilap, mengkilap (karena) disiram minyam (rambut).
Berdandan berlebihan, supaya menarik perhatian pemuda atau pria.

4. Tabunganmu yang kotor (= mulut), tutupannya (= bibir) tak juga dibuka.
Dikatakan kepada orang yang sama sekali tidak pernah mengeluarkan suara, terlebih ketika welaqng gendang (yang berlangsung) semalam suntuk, dan sebagainya.

5. Sebelum kaki ditarik, lumpur serata pinggang.
(Akibat yang) tidak dapat dielak lagi, karena telah melakukan hal-hal buruk; sudah terlanjur.

6. Lemas karena kehausan, mati karena kelaparan.
Seorang yang ditimpa bencana dan tak dapat berdaya lagi.

7. Air telah memenuhi gembung, kayu telah menumpuki tenda.
Seorang perempuan yang telah mengandung, tanpa suami yang jelas.

8. Api telah berkobar, air telah membanjir.
Sedang dalam keadaan yang sulit terbendung lagi.

9. Pipi mengembung, muka merengut.
Merasa kesal dan kecewa.

10. Air mata belum berhenti, ingus pun belum kering.
Sedang berbelasungkawa atau sedang berduka.

11. Air sedang jernih, jangan menimbanya dengan mengaduk-aduk.
Keadaan sedang damai dan tenteram, jangan sekali-kali membuat resah.

12. Jagung dipotong, ubi dibelah.
Memperoleh rezeki sekecil apa pun, selali dibagi merata.

13. Saudari dan ipar di dalam rantai emas, dan bagai emas terlepas dari pegangan.
Saudarai dan ipar telah terlanjur perkara.

14. Kami berkepala untuk menjunjung, dan berpunggung untuk memikul.
Bersedia memikul dan menanggung beban yang diberi (oleh Anak Rana, hal jujur).

15. Tanah sudah diratakan, jangan dibuat tebing.
Situasi telah damai, jangan menimbulkan keretakan baru.

16. Anak-anak biasa membuat kesalahan, orang tua menjari jalan.
Kalau ada keretakan atau kesalahan yang dilakukan kedua belah pihak, jangan dibiarkan berlarut-larut dan orang tua harus mencari jalan damai.

17. Ditaruh pas di tanah, diletakkan persis di batu.
Tindakan yang mengena pada sasarannya.

18. Terlalu mengharapkan tempuling, padahal tombak tersalah tikam.
Terlalu berharap, tertiarap; akhirnya menemui kekecewaan.

19. Kepala belum terbentuk, ekor tidak tercipta.
Suatu masalah yang tidak berujung pangkal, atau sesuatu yang belum remi.

20. Menimbar air, sendiri yang meminumnya. Mengambil kayu, sendiri pula yang membakarnya hingga habis.
Seorang pria (suami) yang menetap di rumah (isteri), sampai akhir hayatnya.
Anak keturunan menjadi hak pihak Anak Rana.

21. Tidak menyentuh jantung, tidak mengena di hati.
Segala (sesuatu) tindakan atau perbuatan atau pemberian yang belum pantas.

22. Lempar batu, sembunyi tangan.
Seseorang yang bersembunyi di balik kesalahan seseorang.

23. Jangan sekali-kali percaya akan lemparan batu, dan kurasan tanah.
Jangan cepat percaya akan kabar burung sebelum menyelidikinya.

24. Maju kena, mundur kena.
Terpaksa harus menerima kenyataan (sudah tak ada jalan lagi).

25. Si tua yang sedang beraksi, bersolek di ambang pintu kubur.
Dikatakan kepada seseorang yang berusia lanjut, namun masih bertingkah supaya diminati gadis-gadis.

26. Sirih berdaun layu, akarnya perlu disiram.
Seorang wanita kesepian, yang memerlukan belaian seorang pria.

27. Kunjungan sang elang, ayam-ayam pada liar.
Kedatangan pemuda berandal, gadis-gadis pada menjauh.

28. Surat almarhumah, tertinggal setelah ditulis.
Orang mati meninggalkan pesan.

29. Orang yang berhati lembut, dan berperut lebar.
Orang yang sabar dan bijaksana.

30. Orang yang berperut lembut, dan berhati lebar.
Orang yang bijaksana dan sabar.

31. Serani di dahi, Rosario di leher.
Iman seseorang yang tidak didukung oleh kewajiban.

32. Meteran ada pemiliknya, kakus ada tuannya.
Suatu kasus yang diketahui penanggung jawabnya.

33. Seolah-olah ditahan tonggak, bagai ditadah cagak.
Seseorang yang selalu menantang, apa saja yang dilontarkan kepadanya.

34. Sepandai-pandai menyembunyikan tumit, tetapi kelihatan celah-celah jari.
Biar pandai menyembunyikan kesalahan, pasti akan diketahui umum.

35. Pasti sang jantan berada di sana, ketika sang betina akan kembali.
Pasti telah terjadi drama percintaan antara kedua muda mudi itu.

36. Berdiri sama sebaris, tegak sama sejajar.
Secara bersama-sama menghadapi (Wina-wai Rana-laki dsb).

37. Banjir memenuhi kali, ke mana harus lewat.
Menemui jalan buntu.

38. Gadis di sebuah pendopo, tampak bertampang lebar.
Menyindir seorang gadis bermuka lebar yang sedang duduk di sebuah pendopo (supaya diminati para pengunjung suatu keramaian).

39. Ayam di bubung situ, mengamati ayam (betina) di bubung sana.
Menyindir seorang pemuda yang sedang mengamati terus salah seorang gadis (biasanya pada keramaian).

40. Cepat-cepat berlari ke depan, tiba-tiba jatuh bagai dibanting.
Orang yang terlalu terburu-buru hendak mendapatkan sesuatu, akhirnya celaka bagi dirinya sendiri.

41. Walaupun menguntit, kami berpendirian.
Si gadis yang mempunyai pendirian sendiri, walaupun dibuntuti oleh sang pria.

42. Meninggalkan tikar, melepasi bantal.
Meninggalkan isteri atau suami (oleh suatu percekcokan, dsb) tanpa perundingan (dan bila bersatu kembali harus diganjar dengan denda babi atau kuda).

43. Penghubung mulut Anda, penyambung lidah kalian.
Hanya sebagai perantara atau pelaksana di balik si penanggung jawab.

44. Engkau yang menjatuhkannya, engkau pula yang menggulingkannya.
Engkau yang bertanggungjawab penuh atas kematian ini (tentang pembunuhan).

45. Dari sebuah lereng, memperhatikan ke arah dataran.
Seseorang yang sedang mengamati sesuatu dengan leluasa dari tempat stretegis.

46. Kapan janji kita, menanti petik jali.
Sepasang insan yang menjanjikan pernikahan di musim potong jadi.

47. Orang yang melahirkan pada saat bulan gelap.
Dikatakan kepada orang yang bodoh.

48. Orang yang melahirkan di waktu bulan purnama.
Dikatakan kepada orang yang pandai.

49. Elang menyimpan dendam, karena ayam memasuki rumah.
Seorang pemuda yang merasa dendam, karena sang gadis idaman menolak cintanya.

50. Nasi telah membasi, sayur telah membau.
(Anak-wina) telah melanggar janji sehingga pihak Anak-rana dirugikan atas persiapan makanan (Anak-wina didenda setinggi-tingginya seekor kuda).

51. Ada pantas orang itu berkepala dua.
Dikatakan kepada seseorang yang berperilaku seperti orang gila atau sinting.

52. Ke situ hiruk-pikuk, ke sana huru-hara.
Hanya mengakibatkan kericuhan.

53. Supaya kampung halaman menjadi semarak, rawatlah dengan baik.

54. Kepala-kepala bersatu, kaki-kaki berlunjur.
Menggalang persatuan dan kesatuan dalam menghadapi problem apa pun.

55. Tangan tergenggam, mata terkatup.
Dikiaskan kepada orang yang meninggal.

56. Membungkus tebal, menggali dalam.
Ikut melayat dan berbelasungkawa atas kematian seseorang disertai pemberian kain hitam untuk membungkus mayat termasuk penguburan.

57. Bergayalah selama masih hidup, kalau mati pun akan menjadi tanah.
Boleh bersenang-senang selama masih hidup, karena tak akan menikmatinya lagi bila telah mati.

58. Bermulut kepiting, berahang katak.
Orang yang pandai bersilat lidah, atau memutarbalikkan keadaan.

59. Tajak tajam, tanah merah.
Sang pria yang hendak menikahi seorang janda, terdahulu harus menyediakan seekor kuda pelepas janda (sebagai perestu).

60. Sang nenek di dalam kamar, sedang mengap memakan ubi (rebus).
Menyindir seseorang yang egois, misalnya, makan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi.

61. Kelenjar (bengkak) memenuhi ketiak, kudis memenuhi paha.
Dikatakan kepada seseorang yang lamban, malas, pengecut, dan lain sebagainya.

62. Terpotong di ujung jari, membengkak di ketiak.
Menjelekkan orang lain, namun menutupi kesalahan sendiri.

63. Orang yang melahirkan kaki ke bawah.
Orang yang melakukan perbuatan janggal atau berlawanan.

64. Pisang peram, tebu tebangan (yang telah menua).
Suatu problem yang sudah saatnya terungkap.

65. Engkau telah bermanis pisang, kau pun telah bermanis madu.
Membujuki seseorang untuk mengikutinya (yang sebenarnya orang itu bukan haknya) sehingga si pembujuk dituding.

66. Menjadi dua, karena engkau – menjadi tiga, engkau penyebabnya.
Anda sebagai biang keladinya atau sebagai penghasut (pemberi jalan berlawanan).

67. Berangan-angan tak terbayang, menggapai-gapai pun tak tersampai (terjangkau).
Menemui jalan buntu, tak tercapai apa yang diinginkan.

68. Tidak mengenal malam, tak (dapat) membedakan siang.
Melaksanakan suatu kegiatan tak henti-henti baik siang maupun malam.

69. Berbicara, harus ada baranya, ada pula nyalanya.
Menanggapi atau menyimpulkan sesuatu perlu kelunakan di samping kekerasan.

70. Berkebun kongsi, berpondok gabung.
Dikatakan kepada seorang isteri yang mempunyai kekasih gelap.

71. Menjadi bapak untuk semalam, dan menjadi ibu untuk sehari.
Menjadi pimpinan marga (dan sebagainya) hanya untuk sementara.

72. Berpondok di pinggir hutan ada tujuannya.
Seseorang yang membuat pondok di pinggir hutan dinilai gampang menyembunyikan kesalahan.

73. Di malam hari tampak tampang berminyak, di siang hari kelihatan jelek.
Dikatakan kepada seorang gadis yang bersolek di waktu malam sehingga kelihatan menarik, ternyata setelah dilihat pada siang hari berwajah jelek. (Sindiran di waktu keramaian yang dilangsungkan malam dan siang).

74. Meminum kencing anak, memakan kotoran isteri.
Dikatakan kepada orang yang pengecut dan tidak menunjukkan kejantanannya.

75. Salah memasang tambak, belut laut pun lolos.
Seorang wanita yang mengharapkan kehadiran seorang laki-laki, namun akhirnya dia dikecewakan. Sudah salah langkah pasti tak akan berhasil.

76. Mulut seumpama bubu, lidah bagaikan pelangi.
Dikatakan kepada orang yang sombong dan besar hati lagi pongah.

77. Engkaulah pangkal pahanya, juga penyakit dan yang ditaburkan.
Engkau pokok pangkalnya, engkau pula penanggung jawabnya.

Sumber:
Tol, Roger. 1997. Adat-Istiadat Orang Rembong di Flores Barat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
hal
Dilihat: